Sunday, February 5, 2012

kajian sosiologi sastra dengan teori mimetik


Makalah Sosiologi Sastra
Analisis Cerpen Mencintai Boneka dengan Teori Mimetik




Oleh:
  Siti Rumaiyah              

 (092144031)


UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
SASTRA INDONESIA
2011







Sinopsis
Mencintai Boneka merupakan cerpen yang mengisahkan tentang boneka. Boneka yang dimaksudkan adalah seorang pelacur. Hal itu dikarenakan boneka identik dengan sesuatu yang indah dan cantik yang hanya dibuat permainan saja. Dalam cerpen ini tokoh laki-laki ( Daril ) menanyakan kepada ibunya bolehkah mencintai boneka. Hal itu yang menjadi masalah Daril. Mengapa? Itu dikeranekan pertanyaan Daril yang dilontarkan kepada ibunya itu sama dengan pertanyaan yang dilontarkan teman Daril tetapi beda jawaban dari ibu Daril dengan ibu teman Daril tersebut.
Jawaban itulah yang menjadi inti cerpen ini. Ibu Daril menjawab pertanyaan Daril dengan memberikan respon positif atas pertanyaan Daril. Sebaliknya, teman Daril yang pernah menanyakan pertanyaan yang sama kepada ibu teman Daril dengan memberikan respon negatif yang berkelanjutan dengan perdebatan panas antara teman Daril dan ibu teman Daril yang berujung kematian. Teman Daril yang tidak setuju dengan jawaban ibunya itu telah membunuh ibunya sendiri yang mengakibatkan teman Daril dipenjara.
Kisah teman Daril itu pernah diceritakan pada Daril. Darilpun masih bingung kenapa ibu teman Daril bisa menjawab pertanyaan yang berbeda dengan ibunya. Dengan tidak yakin bahwa ibunya bisa merespon positif atas pertanyaan tentang mencintai boneka itu, Daril menanyakan lagi kepada ibunya tetapi dengan baground disaat peristiwa teman Daril berdebat dengan ibu teman Daril yang berujung pembunuhan yaitu membawa sebilah pisau untuk berjaga – jaga yang dibawanya dan disembunyikan dibalik punggungnya. Dan yang terjadi adalah jawaban ibunya Daril tetap sama. Yaitu “tidak ada yang salah cinta, sepanjang cintamu tulus....”




A.    Latar belakang
            Karya satra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Karya satra itu bersifat dinamis berjalan sesuai dengan perkembangan masyarakat karena karya sastra itu hasil ciptaan seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam masyarakat seorang individu menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami. Dari kejadian yang ia alami yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan dasar ide dalam penulisan karya sastra.
            Dari pengertian di atas maka dalam mengkaji karya satra kita dapat menghubungkan dengan sosiologi sastra. Dimana ilmu tersebut membahas karya sastra yang di hubungkan dengan masyarakat. Sosilologi sastra juga dapat di definisikan sebagai pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya.( Ratna, 2:2011). Dengan dua pengertian tersebut maka karya sastra dapat dihubungkan dengan masyarakat. Karya sastra sesungguhnya adalah dunia miniatur, karya sastra berfungsi sebagai pengekspresian kejadian-kejadian, yang telah dikerangkakan dalam pola kreativitas dan imajinasi.
            Ketika menghubungkan karya sastra dengan masyarakat maka kita akan memahami karya sastra dari sudut pandang sosiologi sastra. Dalam sosiologi sastra terdapat berbagai teori yang dapat digunakan. Salah satunya adalah teori mimetik. teori mimetik itu sendiri menggangap bahwa karya sastra merupakan cerminan dari masyarakat.
            Pendekatan mimetik ini akan kami terapkan pada salah satu karya sastra yakni cerpen yang berjudul “mencintai boneka”. Kami akan membahas cerpen ini dengan menganalisis kejadian-kejadian dalam karya sastra yang dihubungakan dengan fakta-fakta sosial yang ada pada masyarakat. Cerpen dengan judul “mencintai boneka” ini merupakan cerpen karangan Kurnia Effendi yang mengisahkan kehidupan seseorang yang mencintai seorang pelacur hingga ia tega membunuh ibu kandungnnya.

B.     Rumusan masalah
            Dari penjelasan latar belakang di atas maka dapat kita jadikan sebagai pijakan dalam menyusun rumusan masalah. Rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana penerapan pendekatan mimetik dalam cerpen “mencintai boneka”?
  2. Apa sajakah kejadian-kejadian dalam cerpen yang berhubungan dengan fakta-fakta sosial yang ada dalam masyarakat.


C.    Kajian Teori
Teori mimesis ini perpijak pada pemikiran Plato dan Aristoteles. Plato memilki pandangan terhadap mimesis itu sendiri. Begitu pula Aristoteles. Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni.
Plato menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio,tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah hal yang tetap atau tidak dapat berubah, misalnya idea mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dari kayu dengan jumlah lebih dari satu . Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah (Bertnens1979:13).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia dari pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan Idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan (Luxemberg:16).
Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal. (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew. 1984:221).
Sedangkan Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya.
Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memelih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
Pandangan positif Aristoteles terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap ‘ada’ dan Idea-Idea. Aristoteles menganggap Idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-lah yang tidak dapat berubah, Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles diklasifikasikan ke dalam dua kategori, bentuk dan kategori. Bentuk adalah wujud suatu hal sedangkan materi adalah bahan untuk membuat bentuk tersebut, dengan kata lain bentuk dan meteri adalah suatu kesatuan (Bertens.1979: 13).
  
D.    Pembahasan
Analisis cerpen Mencintai Boneka dengan pendekatan mimetik
            Untuk dapat menganalisis cerpen dengan menggunakan teori mimetik maka kita harus menganalisis aspek-aspek sosial yang ada dalam cerpen itu sendiri. Hal itu dikarenakan mimesis menurut pandangan Aristoteles berarti seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17).
            Dalam cerpen Mencintai Boneka ini terdapat aspek-aspek sosial. Aspek-aspek sosial yang ada pada cerpen ini adalah:
1.      Kedekatan antara ibu dan anak
Dalam cerpen ini kedekatan ibu dan anak. Kedekatan pada cerpen ini dapat terlihat adanya komunikasi antara ibu dan anak untuk menanggapi masalah yang dialami oleh anaknya. Sudah seharusnya ibu membantu seorang anaknya apabila ia mengalami kebinggungan dalam mengambil sikap pada pilihan kehidupannya. Namun pada cerpen ini kedekatan sorang anak dan ibu bisa berdampak baik dan buruk. Hal itu dikarenakan terdapatdua masalah yang mengutarakan tentang kedekatan ibu dan anak tetapi yang menghasilkan dampak yang berbeda. Pada kejadian tokoh utama yang menceritakan tentang seorang yang ia cintai adalah seorang pelacur namun ibunya menyetujuinya dengan memberinya nasehat maka anak merasa senang karena mendapat dukungan dari orang tuanya. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan berikut:
“Ibu, bolehkah aku mencintai boneka?”
(par 1)
Tidak ada salahnya, anakku. Sepanjan cintamu tulus.
(par 2)
            Pada kejadian yang dialami oleh kawan dari tokoh utama ini menimbulkan dampak negatif. Akibat cerita seorang anak kepada orang tuanya yang membuat orang tua itu tidak setuju mengakibatkan terjadinya pembunuhan. Hal ini terlihat pada kutipan berikut:
... seperti yang pernah ia dengar dari kawannya ketika menyampaikan pertanyaan serupa. Ibunya tidak segera menjawab, melainkan balik bertanya, sehingga akhirnya terjadi perdebatan seru dan semakin lama semakin tidak masuk akal. Dan, seperti yang diceritakan oleh kawannya, akhirnya ia murka lalu dengan gegabah menanamkan sebilah pisau ke perut ibunya.
( par 3 )

2.      Pandangan terhadap pelacur
Dalam cerpen ini terdapat pandangan terhadap pelacur. Tidak semua orang menggangap bahwa seorang pelacur tidak pantas dicintai. Pada cerpen ini terdapat oposisi antara yang tidak mempermasalahkan kehidupan pelacur dan yang mempermasalahkan kehidupan pelacur. Berikut kutipan orang tidak mempermasalahkan kehidupan pelacur:
“Ibu, bolehkah aku mencintai boneka?”
(par 1)
Tidak ada salahnya, anakku. Sepanjan cintamu tulus.
(par 2)
Berikut kutipan orang mempermasalahkan kehidupan pelacur:
... seperti yang pernah ia dengar dari kawannya ketika menyampaikan pertanyaan serupa. Ibunya tidak segera menjawab, melainkan balik bertanya, sehingga akhirnya terjadi perdebatan seru dan semakin lama semakin tidak masuk akal. Dan, seperti yang diceritakan oleh kawannya, akhirnya ia murka lalu dengan gegabah menanamkan sebilah pisau ke perut ibunya.
( par 3 )
3.      Pembunuhan terhadap ibu kandung
Pada cerpen ini terdapat pembunuhan terhadap ibu kandung karena masalah yang sepele. Masalah yabg seharusnya dapat dibicarakan secara baik-baik namun ditanggapi dengan pembunuhan. Perdebatan tidak seharusnya diakhiri dengan hal yang merugikan apalagi sampai harus menghilangkan nyawa seseorang yakni ibu kandung sendiri. Hal ini terdapat pada kutipan berikut:
... seperti yang pernah ia dengar dari kawannya ketika menyampaikan pertanyaan serupa. Ibunya tidak segera menjawab, melainkan balik bertanya, sehingga akhirnya terjadi perdebatan seru dan semakin lama semakin tidak masuk akal. Dan, seperti yang diceritakan oleh kawannya, akhirnya ia murka lalu dengan gegabah menanamkan sebilah pisau ke perut ibunya.
( par 3 )

Dalam kehidupan nyata aspek-aspek sosial yang terdapat pada cerpen Mencintai boneka ini benar-benar terjadi. Sesungguhnya karya sastra merupakan representasi dari dunia nyata. Meski aspek-aspek sosial ini tidak semua kita ketahui melalui pengalaman namun aspek-aspek sosial ini dapat kita ketahui melalui wawncara terhadap narasumber dan ada pada berita.

1.      Kedekatan antara anak dan ibu
Pada dunia nyata kedekatan anatara anak dan ibu ini dapat terjalin dengan baik dan kadang pula buruk. Dari hasil pengalaman dari kelompok kami, salah satu kelompok kami merupakan orang yang  memilki kedekatan yang baik terhadap ibunya  sebut saja A. Ia selalu meminta pendapat ibunya ketika mendapat masalah yang sulit yang tak sanggup ia selesaikan sendiri. Apalagi masalah tentang hubungan antara lawan jenis. Ia pun selalu mendapat nasehat dari orang tuanya. Terkadang hubungan itu tidak berjalan dengan baik atau buruk. Hal itu kami temukan pada pengalaman Lely dia salah satu seseorang yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Dia lebih suka menyimpan masalahnya sendiri tanpa cerita dengan ibunya.



2.      Pandangan Terhadap Pelacur
Di kehidupan nyata terdapat seseorang yang mencintai pelacur. Mencintai pelacur tidak ada salahnya asal cinta itu tulus. Hal itu terbukti dengan wawancara kami dengan narasumber yang beristrikan mantan pelacur. Narasumber yang kami yang bernama Imam wawancarai mengatakan bahwa cinta tidak memandang kelas sosial. Ia tidak malu beristrikan seorang pelacur. Ia mengatakan bahwa pelacur hanya masa lalunya yang tidak akan ia jalani kembali profesi itu. Namun terdapat narasumber lain yang bernama Imron telah kami wawancarai mengatakan bahwa pelacur tidak pantas untuk dicintai karena pelacur tidaka akan bisa setia pada satu orang saja.

3.      Pembunuhan terhadap ibu kandung.
Dalam kehidupan nyata banyak sekali kita temukan kasus dalam berita-berita di koran, televisi, majalah tentang pembunuhan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri. Pembunuhan terhadap ibu kandunganya itu terkadang hanya dipicu masalah yang sepele yang seharusnya dapat diselesaikan dengan cara baik-baik. Hal itu dapat dibuktikan dalam kasus berikut;
Polisi Selidiki Kasus Anak Bunuh Ibu Kandungnya
Tag : Polisi, Selidiki, Kasus, Anak, Bunuh, Ibu, Kandungnya
BERITA - metropolis.infogue.com - Kepolisian Resort Kota (Polresta) Surabaya Selatan hingga kini masih menyelidiki kasus pembunuhan seorang ibu oleh anaknya di kediamannya Jalan Lakarsantri, Kota Surabaya, Senin.
"Kami belum tahu secara pasti motif dari pembunuhan tersebut. Kami masih menyelidiki kasus tersebut," kata Kapolresta Surabaya Selatan AKBP Bahagia Dachi saat dihubungi .
Menurut dia, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku pembunuhan Lailil Markumah (36) di Polsek Lakarsantri, sedangkan jenazah Marisimpen (81) masih dilakukan otopsi di rumah sakit setempat.
Sumber: antaranewscom
Dari kutipan yang ada pada cerpen dan yang ada pada dunia nyata diatas menunjukan bahwa terdapat kesamaan aspek-aspek sosial. Yaitu tentang kedekatan antara anak dan ibu, pandangan terhadap pelacur, dan pembunuhan seorang anak terhadap ibu kandungnya.
Dari aspek-aspek sosial yang ada pada cerpen dapat kita temukan bahwa aspek-aspek sosial  yang ada tersebut merupakan representasi dari dunia nyata. Karya sastra tidak terlepas dari kehidupan nyata karena kehidupan nyata adalah bahan dasar dalam pembuatannya.


E.     Kesimpulan
Cerpen merupakan karya sastra yang di dalamnya memuat aspek-aspek sosial. Aspek-aspek sosial ini lah yang kita gali untuk dapat menerapakan teori mimesis pada cerpen Mencintai Boneka. Teori mimesis itu berarti terdapat jiplakan dari dunia nyata namun tidak semata-mata menjiplak karena setiap karya sastra terdapat kreativitas pengarang yang menimbulkan karya itu menjadi fiktif.
Dunia di dalam karya sastra adalah sebuah dunia yang fiktif. Akan tetapi, dunia fiktif ini bisa jadi mengandung nilai-nilai yang menjadi alternatif dari nilai-nilai yang selama ini mendominasi di dunia nyata. Nilai-nilai yang ditawarkan oleh karya sastra ini bisa jadi lebih baik atau bahkan lebih buruk. Penilaian tersebut tentu tergantung pada masyarakat yang mengkonsumsi karya sastra yang dimaksud. Penulis mungkin tidak mempunyai hak untuk memaksa masyarakat menganut nilai-nilai dan norma-norma sosial tertentu. Ia hanya bisa menuangkan isi pikiran dan hatinya dalam tulisan. Namun, apa yang ditulis olehnya dapat menawarkan sesuatu yang baru yang sedikit banyak dapat mempengaruhi masyarakat, walaupun hanya dari segi emosional. Tidak bisa dipungkiri, itupun adalah kekuatan dari karya sastra.
            Dari aspek-aspek sosial yang ada pada cerpen dapat kita temukan bahwa aspek-aspek sosial  yang ada tersebut merupakan representasi dari dunia nyata. Karya sastra tidak terlepas dari kehidupan nyata karena kehidupan nyata adalah bahan dasar dalam pembuatannya. Karena pengarang dalam menghasilkan karya sastra ia distimulasi dari kehidupan nyata yang kemudian ia tuangkan dalam karya sastra baik itu novel, cerpen, puisi, maupun drama.





Daftar Pustaka
Bertens, K. 1979. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Luxemberg, Jan Van dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia (judul asli Inleiding in de literatuur Wetenschap. 1982. Muiderberg: Dikck Countinho B.V Vitgever. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko)
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta : Pustaka pelajar
Teew. A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya

No comments:

Post a Comment