Makalah Sosiologi Sastra
Analisis Cerpen Mencintai Boneka
dengan Teori Mimetik
Oleh:
Siti
Rumaiyah
(092144031)
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
FAKULTAS
BAHASA DAN SENI
SASTRA
INDONESIA
2011
Sinopsis
Mencintai
Boneka merupakan cerpen yang mengisahkan tentang boneka. Boneka yang
dimaksudkan adalah seorang pelacur. Hal itu dikarenakan boneka identik dengan
sesuatu yang indah dan cantik yang hanya dibuat permainan saja. Dalam cerpen
ini tokoh laki-laki ( Daril ) menanyakan kepada ibunya bolehkah mencintai
boneka. Hal itu yang menjadi masalah Daril. Mengapa? Itu dikeranekan pertanyaan
Daril yang dilontarkan kepada ibunya itu sama dengan pertanyaan yang
dilontarkan teman Daril tetapi beda jawaban dari ibu Daril dengan ibu teman
Daril tersebut.
Jawaban
itulah yang menjadi inti cerpen ini. Ibu Daril menjawab pertanyaan Daril dengan
memberikan respon positif atas pertanyaan Daril. Sebaliknya, teman Daril yang
pernah menanyakan pertanyaan yang sama kepada ibu teman Daril dengan memberikan
respon negatif yang berkelanjutan dengan perdebatan panas antara teman Daril
dan ibu teman Daril yang berujung kematian. Teman Daril yang tidak setuju
dengan jawaban ibunya itu telah membunuh ibunya sendiri yang mengakibatkan
teman Daril dipenjara.
Kisah
teman Daril itu pernah diceritakan pada Daril. Darilpun masih bingung kenapa
ibu teman Daril bisa menjawab pertanyaan yang berbeda dengan ibunya. Dengan
tidak yakin bahwa ibunya bisa merespon positif atas pertanyaan tentang
mencintai boneka itu, Daril menanyakan lagi kepada ibunya tetapi dengan
baground disaat peristiwa teman Daril berdebat dengan ibu teman Daril yang
berujung pembunuhan yaitu membawa sebilah pisau untuk berjaga – jaga yang
dibawanya dan disembunyikan dibalik punggungnya. Dan yang terjadi adalah
jawaban ibunya Daril tetap sama. Yaitu “tidak ada yang salah cinta, sepanjang
cintamu tulus....”
A.
Latar
belakang
Karya satra merupakan cerminan
kehidupan masyarakat. Karya satra itu bersifat dinamis berjalan sesuai dengan
perkembangan masyarakat karena karya sastra itu hasil ciptaan seseorang yang
merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam masyarakat seorang individu
menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami. Dari kejadian yang ia alami
yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan dasar ide dalam penulisan karya
sastra.
Dari pengertian di atas maka dalam
mengkaji karya satra kita dapat menghubungkan dengan sosiologi sastra. Dimana
ilmu tersebut membahas karya sastra yang di hubungkan dengan masyarakat.
Sosilologi sastra juga dapat di definisikan sebagai pemahaman terhadap karya
sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya.( Ratna, 2:2011).
Dengan dua pengertian tersebut maka karya sastra dapat dihubungkan dengan
masyarakat. Karya sastra sesungguhnya adalah dunia miniatur, karya sastra
berfungsi sebagai pengekspresian kejadian-kejadian, yang telah dikerangkakan
dalam pola kreativitas dan imajinasi.
Ketika menghubungkan karya sastra
dengan masyarakat maka kita akan memahami karya sastra dari sudut pandang
sosiologi sastra. Dalam sosiologi sastra terdapat berbagai teori yang dapat
digunakan. Salah satunya adalah teori mimetik. teori mimetik itu sendiri
menggangap bahwa karya sastra merupakan cerminan dari masyarakat.
Pendekatan mimetik ini akan kami
terapkan pada salah satu karya sastra yakni cerpen yang berjudul “mencintai boneka”. Kami akan membahas
cerpen ini dengan menganalisis kejadian-kejadian dalam karya sastra yang
dihubungakan dengan fakta-fakta sosial yang ada pada masyarakat. Cerpen dengan
judul “mencintai boneka” ini
merupakan cerpen karangan Kurnia Effendi yang mengisahkan kehidupan seseorang
yang mencintai seorang pelacur hingga ia tega membunuh ibu kandungnnya.
B.
Rumusan
masalah
Dari penjelasan latar belakang di
atas maka dapat kita jadikan sebagai pijakan dalam menyusun rumusan masalah.
Rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
- Bagaimana
penerapan pendekatan mimetik dalam cerpen “mencintai boneka”?
- Apa
sajakah kejadian-kejadian dalam cerpen yang berhubungan dengan fakta-fakta
sosial yang ada dalam masyarakat.
C. Kajian Teori
Teori
mimesis ini perpijak pada pemikiran Plato dan Aristoteles. Plato memilki
pandangan terhadap mimesis itu sendiri. Begitu pula Aristoteles. Pandangan
Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep
Idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni.
Plato
menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang
sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada
manusia. Idea oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio,tidak mungkin
untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah hal yang
tetap atau tidak dapat berubah, misalnya idea mengenai bentuk segitiga, ia
hanya satu tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat
dari kayu dengan jumlah lebih dari satu . Idea mengenai segitiga tersebut tidak
dapat berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah
(Bertnens1979:13).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai
konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam
bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan
sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna
bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja.
Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan
sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh
dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya
merupakan copy dari Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna
bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi
Plato seorang tukang lebih mulia dari pada seniman atau penyair. Seorang tukang
yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan Idea ke
dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman
hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang
dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan
(Luxemberg:16).
Menurut Plato mimesis hanya terikat
pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya
mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh
seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia
ideal. (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan
sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah
disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato
mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi,
bukan rasio (Teew. 1984:221).
Sedangkan Aristoteles adalah seorang
pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga
menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa
seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles
justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew
(1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebai katharsis,
penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan
kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah
penikmatnya.
Aristoteles menganggap seniman dan
sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan,
melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan
sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang
diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17),
Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato)
melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari
kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair
memelih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat
manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles
dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari
tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
Pandangan positif Aristoteles
terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap ‘ada’ dan
Idea-Idea. Aristoteles menganggap Idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan.
Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-lah yang tidak dapat berubah,
Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah
benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles
diklasifikasikan ke dalam dua kategori, bentuk dan kategori. Bentuk adalah
wujud suatu hal sedangkan materi adalah bahan untuk membuat bentuk tersebut,
dengan kata lain bentuk dan meteri adalah suatu kesatuan (Bertens.1979: 13).
D. Pembahasan
Analisis cerpen Mencintai Boneka
dengan pendekatan mimetik
Untuk
dapat menganalisis cerpen dengan menggunakan teori mimetik maka kita harus
menganalisis aspek-aspek sosial yang ada dalam cerpen itu sendiri. Hal itu
dikarenakan mimesis menurut pandangan Aristoteles berarti seniman dan
sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan,
melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan
sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang
diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17).
Dalam
cerpen Mencintai Boneka ini terdapat aspek-aspek sosial. Aspek-aspek sosial
yang ada pada cerpen ini adalah:
1. Kedekatan
antara ibu dan anak
Dalam
cerpen ini kedekatan ibu dan anak. Kedekatan pada cerpen ini dapat terlihat adanya
komunikasi antara ibu dan anak untuk menanggapi masalah yang dialami oleh
anaknya. Sudah seharusnya ibu membantu seorang anaknya apabila ia mengalami
kebinggungan dalam mengambil sikap pada pilihan kehidupannya. Namun pada cerpen
ini kedekatan sorang anak dan ibu bisa berdampak baik dan buruk. Hal itu
dikarenakan terdapatdua masalah yang mengutarakan tentang kedekatan ibu dan
anak tetapi yang menghasilkan dampak yang berbeda. Pada kejadian tokoh utama
yang menceritakan tentang seorang yang ia cintai adalah seorang pelacur namun
ibunya menyetujuinya dengan memberinya nasehat maka anak merasa senang karena
mendapat dukungan dari orang tuanya. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan
berikut:
“Ibu, bolehkah aku
mencintai boneka?”
(par 1)
Tidak ada salahnya, anakku.
Sepanjan cintamu tulus.
(par 2)
Pada kejadian yang dialami oleh
kawan dari tokoh utama ini menimbulkan dampak negatif. Akibat cerita seorang
anak kepada orang tuanya yang membuat orang tua itu tidak setuju mengakibatkan
terjadinya pembunuhan. Hal ini terlihat pada kutipan berikut:
... seperti yang pernah
ia dengar dari kawannya ketika menyampaikan pertanyaan serupa. Ibunya tidak
segera menjawab, melainkan balik bertanya, sehingga akhirnya terjadi perdebatan
seru dan semakin lama semakin tidak masuk akal. Dan, seperti yang diceritakan
oleh kawannya, akhirnya ia murka lalu dengan gegabah menanamkan sebilah pisau
ke perut ibunya.
( par 3 )
2. Pandangan
terhadap pelacur
Dalam cerpen ini terdapat pandangan
terhadap pelacur. Tidak semua orang menggangap bahwa seorang pelacur tidak
pantas dicintai. Pada cerpen ini terdapat oposisi antara yang tidak
mempermasalahkan kehidupan pelacur dan yang mempermasalahkan kehidupan pelacur.
Berikut kutipan orang tidak mempermasalahkan kehidupan pelacur:
“Ibu, bolehkah aku mencintai
boneka?”
(par 1)
Tidak ada salahnya,
anakku. Sepanjan cintamu tulus.
(par 2)
Berikut
kutipan orang mempermasalahkan kehidupan pelacur:
... seperti yang pernah
ia dengar dari kawannya ketika menyampaikan pertanyaan serupa. Ibunya tidak
segera menjawab, melainkan balik bertanya, sehingga akhirnya terjadi perdebatan
seru dan semakin lama semakin tidak masuk akal. Dan, seperti yang diceritakan
oleh kawannya, akhirnya ia murka lalu dengan gegabah menanamkan sebilah pisau
ke perut ibunya.
( par 3 )
3. Pembunuhan
terhadap ibu kandung
Pada
cerpen ini terdapat pembunuhan terhadap ibu kandung karena masalah yang sepele.
Masalah yabg seharusnya dapat dibicarakan secara baik-baik namun ditanggapi
dengan pembunuhan. Perdebatan tidak seharusnya diakhiri dengan hal yang
merugikan apalagi sampai harus menghilangkan nyawa seseorang yakni ibu kandung
sendiri. Hal ini terdapat pada kutipan berikut:
... seperti yang pernah
ia dengar dari kawannya ketika menyampaikan pertanyaan serupa. Ibunya tidak
segera menjawab, melainkan balik bertanya, sehingga akhirnya terjadi perdebatan
seru dan semakin lama semakin tidak masuk akal. Dan, seperti yang diceritakan
oleh kawannya, akhirnya ia murka lalu dengan gegabah menanamkan sebilah pisau
ke perut ibunya.
( par 3 )
Dalam kehidupan nyata
aspek-aspek sosial yang terdapat pada cerpen Mencintai boneka ini benar-benar
terjadi. Sesungguhnya karya sastra merupakan representasi dari dunia nyata. Meski
aspek-aspek sosial ini tidak semua kita ketahui melalui pengalaman namun
aspek-aspek sosial ini dapat kita ketahui melalui wawncara terhadap narasumber
dan ada pada berita.
1.
Kedekatan antara anak dan ibu
Pada dunia nyata kedekatan anatara anak dan ibu ini
dapat terjalin dengan baik dan kadang pula buruk. Dari hasil pengalaman dari
kelompok kami, salah satu kelompok kami merupakan orang yang memilki kedekatan yang baik terhadap ibunya sebut saja A. Ia selalu meminta pendapat
ibunya ketika mendapat masalah yang sulit yang tak sanggup ia selesaikan
sendiri. Apalagi masalah tentang hubungan antara lawan jenis. Ia pun selalu
mendapat nasehat dari orang tuanya. Terkadang hubungan itu tidak berjalan
dengan baik atau buruk. Hal itu kami temukan pada pengalaman Lely dia salah
satu seseorang yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Dia lebih suka
menyimpan masalahnya sendiri tanpa cerita dengan ibunya.
2. Pandangan
Terhadap Pelacur
Di kehidupan nyata terdapat seseorang yang mencintai pelacur. Mencintai
pelacur tidak ada salahnya asal cinta itu tulus. Hal itu terbukti dengan
wawancara kami dengan narasumber yang beristrikan mantan pelacur. Narasumber
yang kami yang bernama Imam wawancarai mengatakan bahwa cinta tidak memandang
kelas sosial. Ia tidak malu beristrikan seorang pelacur. Ia mengatakan bahwa
pelacur hanya masa lalunya yang tidak akan ia jalani kembali profesi itu. Namun
terdapat narasumber lain yang bernama Imron telah kami wawancarai mengatakan
bahwa pelacur tidak pantas untuk dicintai karena pelacur tidaka akan bisa setia
pada satu orang saja.
3.
Pembunuhan terhadap ibu kandung.
Dalam kehidupan nyata
banyak sekali kita temukan kasus dalam berita-berita di koran, televisi, majalah
tentang pembunuhan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri. Pembunuhan
terhadap ibu kandunganya itu terkadang hanya dipicu masalah yang sepele yang
seharusnya dapat diselesaikan dengan cara baik-baik. Hal
itu dapat dibuktikan dalam kasus berikut;
Polisi Selidiki Kasus
Anak Bunuh Ibu Kandungnya
Tag : Polisi, Selidiki,
Kasus, Anak, Bunuh, Ibu, Kandungnya
BERITA -
metropolis.infogue.com - Kepolisian Resort Kota (Polresta) Surabaya Selatan
hingga kini masih menyelidiki kasus pembunuhan seorang ibu oleh anaknya di
kediamannya Jalan Lakarsantri, Kota Surabaya, Senin.
"Kami belum tahu
secara pasti motif dari pembunuhan tersebut. Kami masih menyelidiki kasus
tersebut," kata Kapolresta Surabaya Selatan AKBP Bahagia Dachi saat
dihubungi .
Menurut dia, pihaknya
masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku pembunuhan Lailil Markumah (36) di
Polsek Lakarsantri, sedangkan jenazah Marisimpen (81) masih dilakukan otopsi di
rumah sakit setempat.
Sumber: antaranewscom
Dari kutipan yang ada pada cerpen dan yang ada pada dunia nyata diatas
menunjukan bahwa terdapat kesamaan aspek-aspek sosial. Yaitu tentang kedekatan
antara anak dan ibu, pandangan terhadap pelacur, dan pembunuhan seorang anak
terhadap ibu kandungnya.
Dari aspek-aspek sosial yang ada pada cerpen dapat kita temukan bahwa
aspek-aspek sosial yang ada tersebut
merupakan representasi dari dunia nyata. Karya sastra tidak terlepas dari
kehidupan nyata karena kehidupan nyata adalah bahan dasar dalam pembuatannya.
E. Kesimpulan
Cerpen
merupakan karya sastra yang di dalamnya memuat aspek-aspek sosial. Aspek-aspek
sosial ini lah yang kita gali untuk dapat menerapakan teori mimesis pada cerpen
Mencintai Boneka. Teori mimesis itu berarti terdapat jiplakan dari dunia nyata
namun tidak semata-mata menjiplak karena setiap karya sastra terdapat
kreativitas pengarang yang menimbulkan karya itu menjadi fiktif.
Dunia
di dalam karya sastra adalah sebuah dunia yang fiktif. Akan tetapi, dunia
fiktif ini bisa jadi mengandung nilai-nilai yang menjadi alternatif dari
nilai-nilai yang selama ini mendominasi di dunia nyata. Nilai-nilai yang
ditawarkan oleh karya sastra ini bisa jadi lebih baik atau bahkan lebih buruk.
Penilaian tersebut tentu tergantung pada masyarakat yang mengkonsumsi karya sastra
yang dimaksud. Penulis mungkin tidak mempunyai hak untuk memaksa masyarakat
menganut nilai-nilai dan norma-norma sosial tertentu. Ia hanya bisa menuangkan
isi pikiran dan hatinya dalam tulisan. Namun, apa yang ditulis olehnya dapat
menawarkan sesuatu yang baru yang sedikit banyak dapat mempengaruhi masyarakat,
walaupun hanya dari segi emosional. Tidak bisa dipungkiri, itupun adalah
kekuatan dari karya sastra.
Dari aspek-aspek sosial yang ada pada cerpen dapat kita
temukan bahwa aspek-aspek sosial yang ada
tersebut merupakan representasi dari dunia nyata. Karya sastra tidak terlepas
dari kehidupan nyata karena kehidupan nyata adalah bahan dasar dalam
pembuatannya. Karena pengarang dalam menghasilkan karya sastra ia distimulasi
dari kehidupan nyata yang kemudian ia tuangkan dalam karya sastra baik itu
novel, cerpen, puisi, maupun drama.
Daftar
Pustaka
Bertens, K. 1979. Ringkasan
Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Luxemberg, Jan Van dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia (judul asli Inleiding in
de literatuur Wetenschap. 1982. Muiderberg: Dikck Countinho B.V Vitgever.
Diterjemahkan oleh Dick Hartoko)
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta : Pustaka pelajar
Teew. A. 1984. Sastra
dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya
No comments:
Post a Comment