Hegemoni yang terjadi pada Antar
Tokoh yang terlibat di dalam Novel Siddhartha
Oleh :
Siti
Rumaiyah
O92144031
Universitas
Negeri Surabaya
Fakultas
Bahasa dan Seni
Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia
Prodi
Sastra Indonesia
2011
Abstrak
Novel
Siddhartha merupakan novel karangan Hermann Hesse. Pada novel ini terdapat
problematika yang dialami oleh tokoh utama yang bernama Siddhartha.
Problematika kompleks yang ada pada novel ini menjadikan novel Siddhartha ini
menarik untuk dikaji dengan berbagai macam kajian serta teori dalam
menganalisis. Teori yang dapat digunakan itu bermacam-macam salah satunya
adalah dengan menggunakan kajian sisiologi sastra dengan menggunakan teori hegemoni.
Hegemoni ini akan membahas pengarahan pemikiran yang dirasakan oleh tokoh utama
yang bernama Siddartha oleh pikirannya sendiri hingga ia melakukan berbagai
macam cara agar dapat terbebas dari belenggu hegemoni pikirannya untuk mencapai
sebuah kedamaian yang abadi. Analisis hegemoni tidak terhenti disitu saja namun
berlanjut dengan hegemoni-hegemoni lain yang terjadi pada sebagian tokoh-tokoh
yang hadir dalam novel Siddhatha ini.
Kata Kunci
Sosiologi
sastra, Hegemoni, dan novel Siddartha.
A.Latar
Belakang
Karya
satra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Karya sastra itu bersifat
dinamis berjalan sesuai dengan perkembangan masyarakat karena karya sastra itu
hasil ciptaan seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam
masyarakat seorang individu menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami.
Dari kejadian yang ia alami yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan
dasar ide dalam penulisan karya sastra.
Dari pengertian di atas maka dalam
mengkaji karya satra kita dapat menghubungkan dengan sosiologi sastra. Dimana
ilmu tersebut membahas karya sastra yang di hubungkan dengan masyarakat.
Sosilologi sastra juga dapat di definisikan sebagai pemahaman terhadap karya
sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya.( Ratna, 2:2011).
Dengan
dua pengertian tersebut maka karya sastra dapat dihubungkan dengan masyarakat.
Karya sastra sesungguhnya adalah dunia miniatur, karya sastra berfungsi sebagai
pengekspresian kejadian-kejadian, yang telah dikerangkakan dalam pola
kreativitas dan imajinasi.
Ketika menghubungkan karya sastra dengan
masyarakat maka kita akan memahami karya sastra dari sudut pandang sosiologi
sastra. Dalam sosiologi sastra terdapat berbagai teori yang dapat digunakan.
Salah satunya adalah teori hegemoni. teori hegemoni terdapat dominasi kekuasaan
suatu kelas sosial atas kelas soial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual
dan moral yang dibantudengan dominasi atau penindasan.
Teori hegemoni ini akan diterapkan pada salah satu karya sastra yakni
novel yang berjudul “Siddhartha”.
penulis akan membahas novel ini dengan menganalisis kejadian-kejadian dalam
karya sastra yang terdapat kepemimpinan dan moral yang dibantu dengan dominasi
atau penindasan. Novel dengan judul “Siddhartha”
ini merupakan novel karangan Hermann Hesse yang mengisahkan kehidupan tokoh utama
yang bernama Siddartha. Pada cerita yang ada di dalam novel Siddharta ini ia
merasa ditindas oleh dirinya sendiri yang binggung untuk mendapatkan kedamaian
hidup. Siddartha mencoba segala macam cara untuk dapat melepaskan belenggu
pikirannya untuk mencapai kedamaian. Hegemoni yang terjadi pada diri Siddhartha
ini bermacam-macam yang akan dirincikan pada pembahasan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka
rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:
1. Bagaimana
hegemoni itu terjadi pada novel “Siddhartha”?
2. Siapa
sajakah tokoh-tokoh yang mengalami hegemoni?
Berdasarkan
rumusan masalah di atas maka dapat diketahui makalah ini memiliki tujuan untuk
dapat mengetahui adanya hegemoni yang terjadi pada novel “Siddhartha” dan
mengetahui secara rinci hegemoni yang terjadi pada tokoh-tokoh yang ada dalam novel
“Siddhartha”.
B. Landasan Teori
Teori
hegemoni Gramsci adalah salah satu teori politik paling penting abad XX. Teori
ini dibangun di atas premis pentingnya ide dan tidak menutupinya kekuatan fisik
belaka dalam kontrol sosial politik. Hegemoni adalah kekuasaan atau dominasi
yang dipegang oleh satu kelompok sosial terhadap kolompok-kelompok sosial
lainnya. Hal ini mengacu pada “saling ketergantungan asimetris” dalam hubungan
politik, ekonomi, budaya di antara dan dikalangan negara-negara kebangsaan
(Straubhaar, 1991 dalam Lull, 1998) atau perbedaan di antara dan dikalangan
kelas-kelas sosial dalam satu bangsa. Lebih lanjut, Hegemoni adalah “dominasi dan subbordinasi
pada bidang hubungan yang distrukturkan oleh kekuasaan” (Hall, 1985 dalam
Lull,1998). Tetapi hegemoni lebih dari sekedar kekuasaan sosial itu sendiri;
hegemoni merupakan suatu metode untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan.
Hegemoni dapat juga berarti situasi dimana suatu ‘blok historis’fraksi kelas
berkuasa menjalankan otoritas sosial dan kepemimpinan terhadap kelas-kelas
subordinat melalui kombinasi antar kekuasan, dan terlebih lagi dengan
konsensus.
Hegemoni
menurut Gramsci, dominasi ide kompromis yang tak dipertanyakan lagi yang merepruduksi
masyarakat tertentu. Pada masa kapitalisme akhir kehidupan sehari-hari tertuang
dengan wacana dan teks yang mengalihkan orang dari keterasingan mereka (dan
menganjurkan perlunya kelegaan tertentu, seperti :belajar dan liburan) dan
memotret dunia secara rasional dan penuh dengan keniscayaan. Tujuan kritik
ideologi pada masa kapitalisme akhir adalah untuk mengungkap dan
medemistifikasi, dominasi, dan hegemoni yang ada dipengalaman dan
aktivitas-aktivitas kehidupan sehari-hari (Ben, 2002). Dalam analisis Gramsci,
ideologi dipahami sebagai ide, makna dan praktek yang mendukung kekuasaan
kelompok sosial tertentu. Ideologi menyediakan aturan prilaku praktis dan
tatanan moral yang sepandan dengan agama secara sekuler dipahami sebagai
kesatuan keyakinan antara konsepsi dunia norma tindakan terikat (Gramsci,
1971:349 dalam Berker, 2002: 62).
Teori
marxis klasik, tentu saja menekankan posisi ekonomi sebagai penyebab terkuat
perbedaan sosial. Perkembangan teknologi dalam babad ke-20 mengkibatkan cara
dominasi sosial jauh lebih rumit ketimbang masa sebelumnya. Perbedaan kelas
sosial di dunia dewasa ini tidak semata-mata atau secara langsung ditentukan
oleh faktor ekonomi, kini pengaruh ideologi pun menentukan dalam pelaksanaan
kekuasaan sosial.
Hegemoni
pada awalnya dicetuskan oleh Antonio Gramsci, semasa mendekam dipenjara resim
fasis. Konsep ini pada dasarnya berusaha untuk menjelaskan mengapa revolusi
sosialis tidak terjadi di negara barat yang nota bene demokrasi dan maju
padahal disana terjadi tekanan dan eksploitasi akibat kapitalisme. Hegemoni
digunakan dengan mengacu pada sebuah kondisi proses di mana kelas dominan tidak
hanya mengatur namun juga mengarahkan masyarakat melalui pemaksaan kepemimpinan
moral dan intelektual.
Hegemoni
terjadi pada suatu masyarakat dimana terdapat suatu tingkat konsensus yang
tinggi dengan ukuran stabilitas sosial yang besar dimana kelas bawah dengan
aktif mendukung dan menerima nilai-nilai, ide, tujuan dan makna budaya yang
mengikat dan menyatukan mereka pada struktur kekuasaan yang ada. Meskipun
hegemoni mengimplikasikan tingkat konsensus yang tinggi namun hal itu berarti
bahwa masyarakat tidak sedang berada pada situasi tanpa konflik.
Apa
yang dilakukan hegemoni adalah membatasi konflik ini tidak lain kecuali
memelihara dan mempertahankan hegemoni dan harus terus menerus dipertahankan dengan memberi konsesi pada
kelas atau kelompok subordinannya. Hegemoni “diatur” oleh mereka yang oleh
Gramsci sebut sebagai “intelektual organik” mereka. Menurut Gramsci semua orang
memiliki kemampuan melakukan suatu intelektual, tetapi hanya orang-orang
tertentu saja mempunyai fungsi intelektual organik berfungsi sebagai pengatur
kelas dalam maknanya yang paling luas (Storey, 2003:172-175).
Gramsci,
memperluas teori materialis Marxis ke bidang ideologi. Gramsci, menekankan
peranan “bangunan atas” (super structure) dari masyarakat, lembaga-lembaga yang
memproduksi ideologinya, dalam perjuangan atas makna dan kekuasaan (1971; 1973
;1978 lihat juga Boggs, 1976; Sassoon,1980; dan Simon, 1982 dalam Lull, 1998).
Menurut
Gramsci, agar yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan
menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka harus
memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksud dengan
Gramsci, dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan noral dan
intelektual” secara konsensual. Dalam konteks ini, Gramsci, secara berlawanan
mendudukkan hegemoni, sebagai satu bentuk supremasi satu kelompok atau beberapa
kelompok atas yang lain, dengan bentuk supremasi lain yang ia namakan
“dominasi,” yaitu kekuasaan yang ditopang kekuasaan fisik (1971, dalam Sugiono,
1999 : 31).
Menurut
Femina pengertian itu sudah dikenal oleh orang marxis lain sebelum Gramsci.
Perbedaan teori Gramsci dngan penggunaan istilah serupa itu sebelumnya adalah,
pertama, ia menerpakan konsep itu lebih luas bagi supremasi satu kelompok atau
lebih atas yang lainnya dalam setiap hubungan sosial, sedangkan pemakaian
istilah itu sebelumnya hanya merujuk pada relasi antar proretariat dan kelompok
lainya, yang kedua, Gramsci juga mengkarakterisasikan hegemoni dalam istilah
“pengaruh kultural,” tidak hanya “ kepemimpinan politik dalam sebuah sistem
aliansi” sebagaiman dipahami generasi marxis terdahulu (Femia, 1983 dalam
Sugiono,1999:32).
Penggunaan
konsep Hegemoni dari Gramsci bisa dipandang sebagai upaya menjambatani jurang
antara substruktur dan superstruktur sebagaimana dipahami marxisme ortodoks dan
menganggap keduanya sebagai sebuah ‘kesatuan dialektis oposisi’(Kurtz, 1996
dalam Sugiono, 1999:33).
C.
Pembahasan
Untuk
dapat menganalisis novel dengan menggunakan hegemoni maka harus menganalisis
aspek-aspek sosial yang ada dalam novel itu sendiri yang berhubungan tentang
dominasi kepemimpinan moral berdasar pandangan Gramsci. Hegemoni itu
sendiri ia artikan sebagai praktik kepemimpinan budaya yang dilakukan oleh
ruling class, yang menjadi isi dari filsafat praxis. Perubahan tidak ditempuh
melalui praktik koersif yang menggunakan kekuasaan eksekutif dan legislatif
atau intervensi yang dilakukan polisi melainkan menggunakan ideologi. Menurut
teori hegemoni Gramsci hegemoni tidak diperlihatkan pada kekerasan melainkan
kepada pengarahan terhadap sesuatu atau disebut dengan kepemimpinan
intelektual. Pada novel Siddhartha terdapat pengarahan ideology. Dalam
analisis Gramsci, ideologi dipahami sebagai ide, makna dan praktek yang
mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Ideologi menyediakan aturan
prilaku praktis dan tatanan moral yang sepandan dengan agama secara sekuler
dipahami sebagai kesatuan keyakinan antara konsepsi dunia norma tindakan
terikat (Gramsci, 1971, hal. 349 dalam Berker, 2000:62).
Hegemoni ini
terjadi pada tokoh-tokoh yang terlibat di dalam novel ini. Tokoh-tokoh yang
terlibat dalam novel ini saling terhegemoni satu sama lain. Berikut akan
dijabarkan hegemoni yang terjadi pada novel Siddhartha. Pada novel ini
mendominasi bukan hanya terjadi akibat kelompok kelas sosial yang memilki
kekuasaan namun dominasi juga menyangkut antar individu yang menguasai melaui
kepemimpinan intelektual atau kepemimpinan moral. Tokoh-tokoh yang ada di dalam
novel ini mengalami hegemoni baik dengan dirinya sendiri maupun dengan tokoh
lain. Berikut akan dijabarkan satu persatu hegemoni yang terjadi pada novel Siddhartha.
1. Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddhartha oleh
Dirinya Sendiri
Siddhartha
merupakan tokoh utama dalam novel yang berjudul Siddharta. Tokoh Siddhartha ini mengalami hegemoni atas
pemikirannya sendiri. Ia tidak pernah merasa puas serta bahagia dengan apa yang
didapatkannya. Ia tidak pernah merasakan kedamaian hadir dalam hidupnya meski
banyak orang yang merasa damai dengan adanya Siddhartha. Ia merupakan anak
seorang brahmin yang mempunyai pikiran yang cerdas serta selalu diunggulkan
dalam kaumnya. Ia selalu meraih segala sesuatu yang bagi kebanyakan orang
merupakan hal yang susah namun bagi Siddhartha merupakan hal yang mudah karena
ia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Banyak para brahmin lain yang iri serta
bangga dengan kecerdasannya. Begitu pula
sahabatnya yang bernama Govinda. Ia selalu menjadi panutan sahabatnya.
Dimanapun Siddhartha berada disitu Govinda selalu menemaninya. Diusianya yang
masih belia ia telah banyak belajar kitab-kitab agamanya dan ia telah menguasai
dengan baik kitab yang telah diajarkan kepadanya. Berikut kutipannya
Kegelisahan
menghantui Siddhartha. Dia mulai merasakan bahwa cinta ayah dan ibunya, dan
bahkan cinta dari temannya Govinda, tidak akan membawanya menuju kebahagiaan
abadi, tidak akan membawanya pada kesenangan dan kepuasan, tidak mampu memenuhi
keinginannya. Dia merasa bahwa ayahnya terhormat dan guru-guru lainnya, para
Brahmin yang bijaksana, telah memberikan ajaran tentang kebijaksanaan yang
telah mereka miliki padanya; mereka telah menuangkan segalanya ke dalam bejana
penampungannya; dan bejana itu tidak penuh, pikirannya tidak merasakan
kepuasan, jiwanya tidak merasakan kedamaian, hatinya tidak merasakan
kebahagiaan. (Hesse, 2007:16-17)
Kepuasan dan
kedamaian abadi yang ia cari belum pernah ia dapatkan sehingga ia mencari
kedamaian dan kepuasan itu dengan
berbagai macam cara. Salah satu cara yaitu dengan mejadi seorang samana. Ia mendapatkan ide menjadi
seorang samana karena ia melihat
beberapa orang samana yang kurus dan
ceking melintas di kotanya. Setelah Siddhartha melihat para samana tersebut ia merasakan atmosfer
hangat dan gairah kesunyian dan pengorbanan diri yang meghadang diri mereka.
Setelah melihhat kejadian itulah ia merenung di bawah pohon seharian memikirkan
langkahnya bagaimana jika ia menjadi seperti para samana. Setelah merenung seharian akhirnya ia mendapatkan keputusan
yang kuat untuk menjadi seorang samana.
Berikut kutipannya:
Malam hari,
setelah jam perenungan, siddharta berkata pada Govinda, “Besok pagi, Sahabatku,
Siddhartha kan mendatangi para samana.
Dia akan menjadi seorang samana.”(Hesse,
2005:22).
Mendengar
kata-kata ini Govinda pucat; dia melihat di wajah temannya sebuah keputusan
yang mustahil untuk dibelokkanbagaikan anak panah yang melijit dari busur...
(Hesse, 2005:22)
Menjadi
seorang samana tidak menjadikan
Siddharta puas. Selama beberapa tahun ia telah menguasai ilmu yang telah
diajarkn oleh samana yang tertua dan
ia berhasil menguasainya dengan baik namun hal itu juga belum menjawab rasa
dahaga yang dicari oleh Siddhartha. Sampai suatu ketika desas-desus tentang
pembawa ajaran tentang kedamaian dan kebenaran sampai di telinga Siddhartha dan
Govinda. Desas-desus itu yang membuat hati Siddhrtha ingin mengetahuinya secara
langsung ajaran apakah itu yang telah dibawa seorang yang bernama Gotama yang
sangat diagungkan. Dengan adanya desas-desus itu Siddhartha semakin penasaran
dan mengambil keputusan untuk keluar dari samana.
Berikut kutipannya:
Pada hari
yang sama Siddhartha menyampaikan kepada samana
tertua tentang keputusannya untuk meninggalkannya. Dia memeberitahukan kepada samana yang lebih tua dengan sopan dan
kerendahan hati layaknya seorang murid dan pengikut. Tapi samana menjadi marah karena kedua anak itu meningalkannya; dia
meninggikan suaranya dan menggunakan kata-kata kasar (Hesse, 2005:44)
Setelah ia
bertemu dengan Gotama namun ia belum juga menemukan kedamaian yang ia cari
selama ini. Ia sempat beradu argumen dengan Gotama namun ia tidak mengikuti
aturan Gotama namun ia menyadari bahwa memang ia merasakan kebenaran dimatanya
yang belum pernah ia temui selama ini. ia kemudian melanjutkan pencariannya
menuju ke kota, dimana tempat kesenangan dunia hidup di dalamnya.
Diperjalanannya ke kota ia menyeberangi sungai dan bertemu dengan Vasudeva sang
juru sampan yang dengan senang hati menyebrangkan seorag yang tidak mempunyai
apa-apa untuk mengupainya. Vasudeva hanya meminta sebuah persahabatan yang akan
terjalin. Sesampai di kota ia berhenti di taman milik seorang pelacur yang
cantik jelita yang bernama Kamala. Dari Kamalalah ia belajar kesenangan
duniawi. Siddhartha berguru pada Kamala. Berikut kutipannya:
“Belum
pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana keluar dari hutan datang padaku dan ingin menjadi muridku!
Belum pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana dengan rambut panjangnya dan menggenakan celana usang
compang-camping datang padaku. Banyak pemuda yang datang padaku, dan beberapa
di antaranya adalah putra para brahmin, tapi mereka datang menggenakan sepatu
bagus, mereka wewanggian di rambutnya dan uang dikantongnya. Begitulah kualitas
pemuda, samana, yang datang padaku.”(Hesse,
2005:84).
Di kota
Siddharta juga mempelajari ilmu berdagang daro seseorang yang bernama Kamaswarni.
Hasil berdagang yang telah ia lakukan menjadikan ia menjadi kaya raya sehingga
dapat merasakan segala kenyamanan dalam kehidupan. Ia mulai gemar berjudi dan
minum-minuman keras serta selalu memainkan cinta bersama Kamala. Semua yang
telah ia lakukan belum juga membuat ia merasa puas dan ia belum menemukan
kedamaiaan yang ia cari selama ini dalam hidupnya. Siddhartha pun merasakan samsara yang teramat dalam dikehidupan
yang serba mewahnya sehingga setelah ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan
yang serba mewah itu.
Jalan
terakhir yang ia tempuh untuk memuaskan rasa yang selama ini belum juga ia
temukan adalah menjadi juru sampan. Ia berguru kepada Vasudeva yang
mengajarinya sebuah ilmu baru yakni mendengarkan kehidupan yang ada di sungai.
Dari sungailah Siddhartha menemukan sebuah kebijaksanaan yang tak bisa ia
katakan. Ia menjadi seseorang yang bijaksana dan wajahnya penuh dengan sinar
kebijaksanaan. Ketika teman lamanya bertemu ia kembali, temannya tidak
mengenalinya karena perubahan dari wajah Siddhartha. Temannya yang bernama
Govinda menanyakan apakah ia memiliki ajaran baru, gagasan khusus, atau
pemahaman yang menjadikan ia seperti yang Govinda lihat saat ini. ia hanya mengatakan
bahwa menemukan sebuah gagasan yaitu kebijaksanaan tidak dapat dikatakan
seperti halnya pengetahuan. Berikut kutipannya:
Siddhatha
berkata, “Aku memang memilki gagasan-gagasan, ya, dan juga pemahaman, dari
semuanya, satu satu saat aku merasa kebijaksanaan dari diriku dalam satu
jamatau selama sehari, sama seperti seseorangyang kadang kala merasakan
kehidupan di dalam hatinya. Ada banyak gagasan, tapi akan sulit bagiku untuk
menunjukkan padamu. Lihat, Govinda, ini salah satu gagasan yang kutemukan: Kebijaksanaan
tidak dapat diungkapkan kebijaksanaan, saat seseorang bijak mencoba
menggungkapkannya, selalu terdengar bagaikan kebodohan.”(Hesse, 2005:206-207)
Berdasarkan
penjelasan-penjelasan diatas maka dapat diketahui bagaimana hegemoni yang
terjadi pada Siddhartah oleh pemikirannya sendiri. Ia mencoba berbagai macam
cara untuk dapat membebaskan rasa kedamaian yang abadi yang terus ia cari di
sepanjang perjalanan hidupnya. Dengan berbagai cara yang ia coba dan jalani
itulah yang membuat ia menemukan sebuah kebijaksanaan yang tak dapat
diunggkapkan layaknya sepuah pengetahuan. Hal itulah yang membuat Siddharta
menemukana kedamaian yang selama ini ia cari.
2. Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddhartha oleh Tokoh
Kamala
Hegemoni
yang terjadi pada toko Siddhartah yang dilakukan oleh Kamala merupakan Hegemoni
yang berbentuk pengarahan pemikiran. Hal itu disebabkan Kamala yang mengarahkan
Siddhartha menjadi seseorang yang kaya raya agar dapat belajar padanya seni
bercinta. Berikut kutipannya:
... Belum
pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana dengan rambut panjangnya dan menggenakan celana usang
compang-camping datang padaku. Banyak pemuda yang datang padaku, dan beberapa
di antaranya adalah putra para brahmin, tapi mereka datang menggenakan sepatu
bagus, mereka wewanggian di rambutnya dan uang dikantongnya. Begitulah kualitas
pemuda, samana, yang datang
padaku.”(Hesse, 2005:84).
Sambil
tertawa Kamala mengtakan, “belum, Teman terhorma, dia masih belum cukup baik.
Dia harus menggenakan pakaina, pakaian yang indah, alas kaki yang bagus, uang
melimpah di kantongnya—dan hadiah untuk Kamala. Apakah Anda mengerti samana
dari hutan? Apakah Anda memahaminya?”(Hesse, 2005:85).
Kamala lah
yang juga telah mengarahkan Siddhartha untuk belajar berdagang dengan seseorang
yang bernama Kamaswarni agar ia bisa memenuhi syarat yang telah diajukannya
jika ia ingin belajar seni bercinta darinya. Berikut kutipannya:
“Segalanyaberjalan
baik,ujar Kamala padanya. “Kamu sudah ditunggu di rumah kamaswarni. Dia
merupakan pedagang terkaya di kota ini. jika ia menyukaimu, dia akan
memperkerjakanmu. Pintar-pintarlah, Samana berkulit coklat. Aku telah meminta
orang lain untuk menceritakan padanya
tentang dirimu. Tunjukkan padanya kelebihanmu—dia sangat berkuasa. Tapi jangan
menjadi terlalu rendah hati. Aku tidak ingin kmu menjadi pelayannya. Kamu harus
sejajar dengannya, jika tidak aku tidak akan menyukaimu. Kamaswarni mulai tua
dan cukup puas dengan dirinya. Jika ia menyukaimu, dia akan memmpercayakan
bisnisnya padamu.”(Hesse, 2005:93)
Berdasarkan kutipan di atas maka
dapat diketahui adanya pengarahan pemikiran yang dilakukan Kamala pada
Siddhartha agar menjadi seseorang yang kaya raya yang dapat memberikan
keinginan Kamala jika ia ingin menjadi muridnya dalam seni bercintanya.
3. Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddharta oleh
Anaknya
Hegemoni
yang terjadi pada tokoh Sidhartha merupakan hegemoni yang berbentuk penindasan.
Hal itu dikarenakan sikap angkuh sang anak kepada Siddhartha. Sikap baik yang
diberikan oleh Siddhartha semakin membuat ia sengsara karena ia tidak dapat
menerima kehidupan yang miskin tidak seperti ketika ia bersma ibunya yang hidup
serba kecukupan. Padahal ia berusah memberikan makanan terbaik yang dapat ia
usahakan untuk diberikan kepada anaknya. Ia juga berusaha melakukan semua
pekerjaan anaknya namun hal itu tak membuat si anak luluh terhadapnya. Berikut
kutipannya:
Siddhartha
berlaku lembut padanya dan membiarkan menempuh caranya sendiri... Siddhartha
sadar kalaukesedihan kesedihan hati dari anak manja tidak mungkin begitu saja
menerima keanehan dan kemiskinan dengan gembira. Dia tidak memaksanya. Dia
melakukan sebagian besar pekerjaannya untuk anak itu, selalu berusaha mencari
potongan makanan terbaik untuknya. Dia berharap lambat laun akan memenangkan
hatinya melalui kebaikan dan kesabaran (Hesse, 2005:173).
Anak
Siddhartha bukan luluh dengan sikap yang telah Siddhartha berikan kepadanya
malah semakin muak dengan semua kebaikan yang telah diberikan Siddhrtha
padanya. Ia bosan dikurung di dalam pondok Vasudeva yang buruk. Sampai suatu
ketika ia tidak tahan akhirnya percekcokan terjadi antara Siddhartha dan
anaknya. Pagi harinya ia pun melarikan diri untuk meningggalkan ayahnya. Ia pun
membawa koin tembaga milik vasudeva. Ia melarikan diri dengan menggunakan rakit
serta menghancurkan semua dayung milik vasudeva agar sang ayah tidak dapat
menyusulnya. Setelah ia mengetahui bahwa anaknya telah meninggalkannya ia
bergegas membuat rakit agar dapat munyusul anaknya yang telah kabur. Hal itu
dilakukan karena rasa sayangnya terhadap anaknya hingga ia rela melakukan apa
saja untuk dapat dekat dengan anaknya. Ia mengkhawatirkan anaknya tidak bisa
keluar dari hutan sendirian. Pengejaran Siddhartha pun sia-sia sampai di tengah
kota ia tidak dapat menemukan anaknya. Ia termenung di kota sebelum ia
memutuskan untuk kembali ke pondok Vasudeva dengan membawa kenyataan bahwa
anaknya tidak ingin bersamanya kembali sehingga anaknya memutuskan untuk
meninggalkan Siddhatrha yang sangat menyayanginya.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat
diketahui bahwa anaknya telah menghegemoni perasaan Siddhartha. Siddhatrha yang
sangat mencintai anaknya tetapi tidak mendapatkan balasan apaun dari anaknya.
Ia mendapatkan kesedihan yang teramat dalam akibat ulah anknya yang telah
meninggalkannya.
D.
Simpulan
Novel merupakan karya sastra yang di dalamnya memuat
aspek-aspek sosial. Aspek-aspek sosial ini lah yang digali untuk dapat menerapkan teori hegemoni.
Aspek-aspek sosial ini dijadikan pijakan dalam membedah novel Siddhartha karena
pada makalah ini mengaji novel dengan menggunakan kajian sosiologi sastra.
Teori Hegemoni itu sendiri berarti dominasi kepemimpinan moral berdasar
pandangan Gramsci.
Terlihat
jelas dalam novel ini, di dalamnya telah mengungkap teori Gramsci itu sendiri
dikaji dari aspek sosialnya bahwa kepemimpinan moral atau pengarahan pemikiran
terjadi kepada beberapa tokoh tynag terlibat di dalamnya. Hegemoni yang ada
pada novel ini sebenarnya bukan hanya terdapat tiga bahasan seperti yang telah
dijelaskan pada pembahasan namun pada makalah ini difokuskan kearah hegemoni
yang tampak dominan yang terjadi antar tokoh yang terlibat di dalamnya.
Hegemoni itu yang pertama terjadi
pada tokoh Siddhartha oleh pemikirannya sendiri yang ingin menemukan sebuah
kedamaian abadi hingga ia menempuh dengan berbagai macam cara. Hegemoni kedua
terjadi pada tokoh Siddhartha oleh Kamala. Hegemoni itu berupa pengarahan
pemikiran yaitu mengarahkan pemikiran Siddhartha untuk menjadi seorang yang
kaya raya agar dapat menjadi muridnya untuk belajar seni bercinta. Untuk
menjadi murid Kamala Siddhartha harus dapat memenuhi keinginan Kamala, yaitu
memilki banyak uang sehingga dapat memberikan hadiah pada Kamala. Hegemoni yang
terakhir yaitu hegemoni pada tokoh Siddhartha oleh anaknya sendiri. Hegemoni
itu berupa penindasan perasaan yaitu dengan mengacuhkan semua perbuatan baik
Siddhartha terhadapanya. Ia tidak menerima Siddhartha sebagai ayahnya karena
keadaan Siddhartha yang miskin dan serba kekurangan.
Dari aspek-aspek sosial
yang ada pada cerpen dapat kita temukan bahwa aspek-aspek sosial yang ada tersebut terdapat hegemoni yang
dilakukan oleh seorang tokoh yang meghegemoni tokoh lain yang ada di dalamnya.
Hegemoni itu berupa pengarahan pemikiran serta terdapat pula hegeoni yang
berupa penindasan. Penindasan yang ada bukan berupa penindasan fisik melainkan
penindasan pemikiran.
Daftar
Pustaka
Agger, Ben. 2003. Teori Sosial Kritis Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Yogyakarta
: Kreasi Wacana.
Barker, Cheris. 2004. Cultural Studies Praktek dan Teori. Yogyakarta
: Kreasi Wacana.
Hesse, Hermann. 2005. Siddhatrha. Yogyakarta : JEJAK.
Kutha Ratna, Nyoman. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakrata :
Pustaka Pelajar.
Lull,
James. 1998. Media Komunikasi Kebudayaan
Suatu Pendekatan Global. Pengantar: Parakitri T. Simbolon. Jakarta :Yayasan
Obor Indonesia.
Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop Memetakan Lanskap Konseptual Cultutal
Studies. Yogyakarta : CV. Qalam.
Sugiono, Muhadi. 1999. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan
Dunia Ketiga. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
No comments:
Post a Comment