Sunday, February 5, 2012

Hegemoni yang terjadi pada Antar Tokoh yang terlibat di dalam Novel Siddhartha


Hegemoni yang terjadi pada Antar Tokoh yang terlibat di dalam Novel Siddhartha
Oleh :
Siti Rumaiyah
O92144031
Universitas Negeri Surabaya
Fakultas Bahasa dan Seni
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Prodi Sastra Indonesia

2011


Abstrak
Novel Siddhartha merupakan novel karangan Hermann Hesse. Pada novel ini terdapat problematika yang dialami oleh tokoh utama yang bernama Siddhartha. Problematika kompleks yang ada pada novel ini menjadikan novel Siddhartha ini menarik untuk dikaji dengan berbagai macam kajian serta teori dalam menganalisis. Teori yang dapat digunakan itu bermacam-macam salah satunya adalah dengan menggunakan kajian sisiologi sastra dengan menggunakan teori hegemoni. Hegemoni ini akan membahas pengarahan pemikiran yang dirasakan oleh tokoh utama yang bernama Siddartha oleh pikirannya sendiri hingga ia melakukan berbagai macam cara agar dapat terbebas dari belenggu hegemoni pikirannya untuk mencapai sebuah kedamaian yang abadi. Analisis hegemoni tidak terhenti disitu saja namun berlanjut dengan hegemoni-hegemoni lain yang terjadi pada sebagian tokoh-tokoh yang hadir dalam novel Siddhatha ini.

Kata Kunci
Sosiologi sastra, Hegemoni, dan novel Siddartha.

A.Latar Belakang
Karya satra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Karya sastra itu bersifat dinamis berjalan sesuai dengan perkembangan masyarakat karena karya sastra itu hasil ciptaan seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam masyarakat seorang individu menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami. Dari kejadian yang ia alami yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan dasar ide dalam penulisan karya sastra.
            Dari pengertian di atas maka dalam mengkaji karya satra kita dapat menghubungkan dengan sosiologi sastra. Dimana ilmu tersebut membahas karya sastra yang di hubungkan dengan masyarakat. Sosilologi sastra juga dapat di definisikan sebagai pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya.( Ratna, 2:2011).
Dengan dua pengertian tersebut maka karya sastra dapat dihubungkan dengan masyarakat. Karya sastra sesungguhnya adalah dunia miniatur, karya sastra berfungsi sebagai pengekspresian kejadian-kejadian, yang telah dikerangkakan dalam pola kreativitas dan imajinasi.
            Ketika menghubungkan karya sastra dengan masyarakat maka kita akan memahami karya sastra dari sudut pandang sosiologi sastra. Dalam sosiologi sastra terdapat berbagai teori yang dapat digunakan. Salah satunya adalah teori hegemoni. teori hegemoni terdapat dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas soial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantudengan dominasi atau penindasan.
            Teori hegemoni ini akan  diterapkan pada salah satu karya sastra yakni novel yang berjudul “Siddhartha”. penulis akan membahas novel ini dengan menganalisis kejadian-kejadian dalam karya sastra yang terdapat kepemimpinan dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan. Novel dengan judul “Siddhartha” ini merupakan novel karangan Hermann Hesse yang mengisahkan kehidupan tokoh utama yang bernama Siddartha. Pada cerita yang ada di dalam novel Siddharta ini ia merasa ditindas oleh dirinya sendiri yang binggung untuk mendapatkan kedamaian hidup. Siddartha mencoba segala macam cara untuk dapat melepaskan belenggu pikirannya untuk mencapai kedamaian. Hegemoni yang terjadi pada diri Siddhartha ini bermacam-macam yang akan dirincikan pada pembahasan.
      Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:
1.      Bagaimana hegemoni itu terjadi pada novel “Siddhartha”?
2.      Siapa sajakah tokoh-tokoh yang mengalami hegemoni?
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dapat diketahui makalah ini memiliki tujuan untuk dapat mengetahui adanya hegemoni yang terjadi pada novel “Siddhartha” dan mengetahui secara rinci hegemoni yang terjadi pada tokoh-tokoh yang ada dalam novel “Siddhartha”.

B. Landasan Teori
Teori hegemoni Gramsci adalah salah satu teori politik paling penting abad XX. Teori ini dibangun di atas premis pentingnya ide dan tidak menutupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Hegemoni adalah kekuasaan atau dominasi yang dipegang oleh satu kelompok sosial terhadap kolompok-kelompok sosial lainnya. Hal ini mengacu pada “saling ketergantungan asimetris” dalam hubungan politik, ekonomi, budaya di antara dan dikalangan negara-negara kebangsaan (Straubhaar, 1991 dalam Lull, 1998) atau perbedaan di antara dan dikalangan kelas-kelas sosial dalam satu bangsa. Lebih lanjut,  Hegemoni adalah “dominasi dan subbordinasi pada bidang hubungan yang distrukturkan oleh kekuasaan” (Hall, 1985 dalam Lull,1998). Tetapi hegemoni lebih dari sekedar kekuasaan sosial itu sendiri; hegemoni merupakan suatu metode untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Hegemoni dapat juga berarti situasi dimana suatu ‘blok historis’fraksi kelas berkuasa menjalankan otoritas sosial dan kepemimpinan terhadap kelas-kelas subordinat melalui kombinasi antar kekuasan, dan terlebih lagi dengan konsensus.
Hegemoni menurut Gramsci, dominasi ide kompromis yang tak dipertanyakan lagi yang merepruduksi masyarakat tertentu. Pada masa kapitalisme akhir kehidupan sehari-hari tertuang dengan wacana dan teks yang mengalihkan orang dari keterasingan mereka (dan menganjurkan perlunya kelegaan tertentu, seperti :belajar dan liburan) dan memotret dunia secara rasional dan penuh dengan keniscayaan. Tujuan kritik ideologi pada masa kapitalisme akhir adalah untuk mengungkap dan medemistifikasi, dominasi, dan hegemoni yang ada dipengalaman dan aktivitas-aktivitas kehidupan sehari-hari (Ben, 2002). Dalam analisis Gramsci, ideologi dipahami sebagai ide, makna dan praktek yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Ideologi menyediakan aturan prilaku praktis dan tatanan moral yang sepandan dengan agama secara sekuler dipahami sebagai kesatuan keyakinan antara konsepsi dunia norma tindakan terikat (Gramsci, 1971:349 dalam Berker, 2002: 62).
Teori marxis klasik, tentu saja menekankan posisi ekonomi sebagai penyebab terkuat perbedaan sosial. Perkembangan teknologi dalam babad ke-20 mengkibatkan cara dominasi sosial jauh lebih rumit ketimbang masa sebelumnya. Perbedaan kelas sosial di dunia dewasa ini tidak semata-mata atau secara langsung ditentukan oleh faktor ekonomi, kini pengaruh ideologi pun menentukan dalam pelaksanaan kekuasaan sosial.
Hegemoni pada awalnya dicetuskan oleh Antonio Gramsci, semasa mendekam dipenjara resim fasis. Konsep ini pada dasarnya berusaha untuk menjelaskan mengapa revolusi sosialis tidak terjadi di negara barat yang nota bene demokrasi dan maju padahal disana terjadi tekanan dan eksploitasi akibat kapitalisme. Hegemoni digunakan dengan mengacu pada sebuah kondisi proses di mana kelas dominan tidak hanya mengatur namun juga mengarahkan masyarakat melalui pemaksaan kepemimpinan moral dan intelektual.
Hegemoni terjadi pada suatu masyarakat dimana terdapat suatu tingkat konsensus yang tinggi dengan ukuran stabilitas sosial yang besar dimana kelas bawah dengan aktif mendukung dan menerima nilai-nilai, ide, tujuan dan makna budaya yang mengikat dan menyatukan mereka pada struktur kekuasaan yang ada. Meskipun hegemoni mengimplikasikan tingkat konsensus yang tinggi namun hal itu berarti bahwa masyarakat tidak sedang berada pada situasi tanpa konflik.
Apa yang dilakukan hegemoni adalah membatasi konflik ini tidak lain kecuali memelihara dan mempertahankan hegemoni dan harus terus menerus  dipertahankan dengan memberi konsesi pada kelas atau kelompok subordinannya. Hegemoni “diatur” oleh mereka yang oleh Gramsci sebut sebagai “intelektual organik” mereka. Menurut Gramsci semua orang memiliki kemampuan melakukan suatu intelektual, tetapi hanya orang-orang tertentu saja mempunyai fungsi intelektual organik berfungsi sebagai pengatur kelas dalam maknanya yang paling luas (Storey, 2003:172-175).
Gramsci, memperluas teori materialis Marxis ke bidang ideologi. Gramsci, menekankan peranan “bangunan atas” (super structure) dari masyarakat, lembaga-lembaga yang memproduksi ideologinya, dalam perjuangan atas makna dan kekuasaan (1971; 1973 ;1978 lihat juga Boggs, 1976; Sassoon,1980; dan Simon, 1982 dalam Lull, 1998).
Menurut Gramsci, agar yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksud dengan Gramsci, dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan noral dan intelektual” secara konsensual. Dalam konteks ini, Gramsci, secara berlawanan mendudukkan hegemoni, sebagai satu bentuk supremasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas yang lain, dengan bentuk supremasi lain yang ia namakan “dominasi,” yaitu kekuasaan yang ditopang kekuasaan fisik (1971, dalam Sugiono, 1999 : 31).
Menurut Femina pengertian itu sudah dikenal oleh orang marxis lain sebelum Gramsci. Perbedaan teori Gramsci dngan penggunaan istilah serupa itu sebelumnya adalah, pertama, ia menerpakan konsep itu lebih luas bagi supremasi satu kelompok atau lebih atas yang lainnya dalam setiap hubungan sosial, sedangkan pemakaian istilah itu sebelumnya hanya merujuk pada relasi antar proretariat dan kelompok lainya, yang kedua, Gramsci juga mengkarakterisasikan hegemoni dalam istilah “pengaruh kultural,” tidak hanya “ kepemimpinan politik dalam sebuah sistem aliansi” sebagaiman dipahami generasi marxis terdahulu (Femia, 1983 dalam Sugiono,1999:32).
Penggunaan konsep Hegemoni dari Gramsci bisa dipandang sebagai upaya menjambatani jurang antara substruktur dan superstruktur sebagaimana dipahami marxisme ortodoks dan menganggap keduanya sebagai sebuah ‘kesatuan dialektis oposisi’(Kurtz, 1996 dalam Sugiono, 1999:33).

C.   Pembahasan
Untuk dapat menganalisis novel dengan menggunakan hegemoni maka harus menganalisis aspek-aspek sosial yang ada dalam novel itu sendiri yang berhubungan tentang dominasi kepemimpinan moral berdasar pandangan Gramsci. Hegemoni itu sendiri ia artikan sebagai praktik kepemimpinan budaya yang dilakukan oleh ruling class, yang menjadi isi dari filsafat praxis. Perubahan tidak ditempuh melalui praktik koersif yang menggunakan kekuasaan eksekutif dan legislatif atau intervensi yang dilakukan polisi melainkan menggunakan ideologi. Menurut teori hegemoni Gramsci hegemoni tidak diperlihatkan pada kekerasan melainkan kepada pengarahan terhadap sesuatu atau disebut dengan kepemimpinan intelektual. Pada novel Siddhartha terdapat pengarahan ideology. Dalam analisis Gramsci, ideologi dipahami sebagai ide, makna dan praktek yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Ideologi menyediakan aturan prilaku praktis dan tatanan moral yang sepandan dengan agama secara sekuler dipahami sebagai kesatuan keyakinan antara konsepsi dunia norma tindakan terikat (Gramsci, 1971, hal. 349 dalam Berker, 2000:62).
Hegemoni ini terjadi pada tokoh-tokoh yang terlibat di dalam novel ini. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam novel ini saling terhegemoni satu sama lain. Berikut akan dijabarkan hegemoni yang terjadi pada novel Siddhartha. Pada novel ini mendominasi bukan hanya terjadi akibat kelompok kelas sosial yang memilki kekuasaan namun dominasi juga menyangkut antar individu yang menguasai melaui kepemimpinan intelektual atau kepemimpinan moral. Tokoh-tokoh yang ada di dalam novel ini mengalami hegemoni baik dengan dirinya sendiri maupun dengan tokoh lain. Berikut akan dijabarkan satu persatu hegemoni yang terjadi pada novel Siddhartha.
1.      Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddhartha oleh Dirinya Sendiri
Siddhartha merupakan tokoh utama dalam novel yang berjudul Siddharta. Tokoh Siddhartha ini mengalami hegemoni atas pemikirannya sendiri. Ia tidak pernah merasa puas serta bahagia dengan apa yang didapatkannya. Ia tidak pernah merasakan kedamaian hadir dalam hidupnya meski banyak orang yang merasa damai dengan adanya Siddhartha. Ia merupakan anak seorang brahmin yang mempunyai pikiran yang cerdas serta selalu diunggulkan dalam kaumnya. Ia selalu meraih segala sesuatu yang bagi kebanyakan orang merupakan hal yang susah namun bagi Siddhartha merupakan hal yang mudah karena ia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Banyak para brahmin lain yang iri serta bangga  dengan kecerdasannya. Begitu pula sahabatnya yang bernama Govinda. Ia selalu menjadi panutan sahabatnya. Dimanapun Siddhartha berada disitu Govinda selalu menemaninya. Diusianya yang masih belia ia telah banyak belajar kitab-kitab agamanya dan ia telah menguasai dengan baik kitab yang telah diajarkan kepadanya. Berikut kutipannya
Kegelisahan menghantui Siddhartha. Dia mulai merasakan bahwa cinta ayah dan ibunya, dan bahkan cinta dari temannya Govinda, tidak akan membawanya menuju kebahagiaan abadi, tidak akan membawanya pada kesenangan dan kepuasan, tidak mampu memenuhi keinginannya. Dia merasa bahwa ayahnya terhormat dan guru-guru lainnya, para Brahmin yang bijaksana, telah memberikan ajaran tentang kebijaksanaan yang telah mereka miliki padanya; mereka telah menuangkan segalanya ke dalam bejana penampungannya; dan bejana itu tidak penuh, pikirannya tidak merasakan kepuasan, jiwanya tidak merasakan kedamaian, hatinya tidak merasakan kebahagiaan. (Hesse, 2007:16-17)
Kepuasan dan kedamaian abadi yang ia cari belum pernah ia dapatkan sehingga ia mencari kedamaian dan kepuasan  itu dengan berbagai macam cara. Salah satu cara yaitu dengan mejadi seorang samana. Ia mendapatkan ide menjadi seorang samana karena ia melihat beberapa orang samana yang kurus dan ceking melintas di kotanya. Setelah Siddhartha melihat para samana tersebut ia merasakan atmosfer hangat dan gairah kesunyian dan pengorbanan diri yang meghadang diri mereka. Setelah melihhat kejadian itulah ia merenung di bawah pohon seharian memikirkan langkahnya bagaimana jika ia menjadi seperti para samana. Setelah merenung seharian akhirnya ia mendapatkan keputusan yang kuat untuk menjadi seorang samana. Berikut kutipannya:
Malam hari, setelah jam perenungan, siddharta berkata pada Govinda, “Besok pagi, Sahabatku, Siddhartha kan mendatangi para samana. Dia akan menjadi seorang samana.”(Hesse, 2005:22).
Mendengar kata-kata ini Govinda pucat; dia melihat di wajah temannya sebuah keputusan yang mustahil untuk dibelokkanbagaikan anak panah yang melijit dari busur... (Hesse, 2005:22)
Menjadi seorang samana tidak menjadikan Siddharta puas. Selama beberapa tahun ia telah menguasai ilmu yang telah diajarkn oleh samana yang tertua dan ia berhasil menguasainya dengan baik namun hal itu juga belum menjawab rasa dahaga yang dicari oleh Siddhartha. Sampai suatu ketika desas-desus tentang pembawa ajaran tentang kedamaian dan kebenaran sampai di telinga Siddhartha dan Govinda. Desas-desus itu yang membuat hati Siddhrtha ingin mengetahuinya secara langsung ajaran apakah itu yang telah dibawa seorang yang bernama Gotama yang sangat diagungkan. Dengan adanya desas-desus itu Siddhartha semakin penasaran dan mengambil keputusan untuk keluar dari samana. Berikut kutipannya:
Pada hari yang sama Siddhartha menyampaikan kepada samana tertua tentang keputusannya untuk meninggalkannya. Dia memeberitahukan kepada samana yang lebih tua dengan sopan dan kerendahan hati layaknya seorang murid dan pengikut. Tapi samana menjadi marah karena kedua anak itu meningalkannya; dia meninggikan suaranya dan menggunakan kata-kata kasar (Hesse, 2005:44)
Setelah ia bertemu dengan Gotama namun ia belum juga menemukan kedamaian yang ia cari selama ini. Ia sempat beradu argumen dengan Gotama namun ia tidak mengikuti aturan Gotama namun ia menyadari bahwa memang ia merasakan kebenaran dimatanya yang belum pernah ia temui selama ini. ia kemudian melanjutkan pencariannya menuju ke kota, dimana tempat kesenangan dunia hidup di dalamnya. Diperjalanannya ke kota ia menyeberangi sungai dan bertemu dengan Vasudeva sang juru sampan yang dengan senang hati menyebrangkan seorag yang tidak mempunyai apa-apa untuk mengupainya. Vasudeva hanya meminta sebuah persahabatan yang akan terjalin. Sesampai di kota ia berhenti di taman milik seorang pelacur yang cantik jelita yang bernama Kamala. Dari Kamalalah ia belajar kesenangan duniawi. Siddhartha berguru pada Kamala. Berikut kutipannya:
“Belum pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana keluar dari hutan datang padaku dan ingin menjadi muridku! Belum pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana dengan rambut panjangnya dan menggenakan celana usang compang-camping datang padaku. Banyak pemuda yang datang padaku, dan beberapa di antaranya adalah putra para brahmin, tapi mereka datang menggenakan sepatu bagus, mereka wewanggian di rambutnya dan uang dikantongnya. Begitulah kualitas pemuda, samana, yang datang padaku.”(Hesse, 2005:84).
Di kota Siddharta juga mempelajari ilmu berdagang daro seseorang yang bernama Kamaswarni. Hasil berdagang yang telah ia lakukan menjadikan ia menjadi kaya raya sehingga dapat merasakan segala kenyamanan dalam kehidupan. Ia mulai gemar berjudi dan minum-minuman keras serta selalu memainkan cinta bersama Kamala. Semua yang telah ia lakukan belum juga membuat ia merasa puas dan ia belum menemukan kedamaiaan yang ia cari selama ini dalam hidupnya. Siddhartha pun merasakan samsara yang teramat dalam dikehidupan yang serba mewahnya sehingga setelah ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang serba mewah itu.
Jalan terakhir yang ia tempuh untuk memuaskan rasa yang selama ini belum juga ia temukan adalah menjadi juru sampan. Ia berguru kepada Vasudeva yang mengajarinya sebuah ilmu baru yakni mendengarkan kehidupan yang ada di sungai. Dari sungailah Siddhartha menemukan sebuah kebijaksanaan yang tak bisa ia katakan. Ia menjadi seseorang yang bijaksana dan wajahnya penuh dengan sinar kebijaksanaan. Ketika teman lamanya bertemu ia kembali, temannya tidak mengenalinya karena perubahan dari wajah Siddhartha. Temannya yang bernama Govinda menanyakan apakah ia memiliki ajaran baru, gagasan khusus, atau pemahaman yang menjadikan ia seperti yang Govinda lihat saat ini. ia hanya mengatakan bahwa menemukan sebuah gagasan yaitu kebijaksanaan tidak dapat dikatakan seperti halnya pengetahuan. Berikut kutipannya:
Siddhatha berkata, “Aku memang memilki gagasan-gagasan, ya, dan juga pemahaman, dari semuanya, satu satu saat aku merasa kebijaksanaan dari diriku dalam satu jamatau selama sehari, sama seperti seseorangyang kadang kala merasakan kehidupan di dalam hatinya. Ada banyak gagasan, tapi akan sulit bagiku untuk menunjukkan padamu. Lihat, Govinda, ini salah satu gagasan yang kutemukan: Kebijaksanaan tidak dapat diungkapkan kebijaksanaan, saat seseorang bijak mencoba menggungkapkannya, selalu terdengar bagaikan kebodohan.”(Hesse, 2005:206-207)  
Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas maka dapat diketahui bagaimana hegemoni yang terjadi pada Siddhartah oleh pemikirannya sendiri. Ia mencoba berbagai macam cara untuk dapat membebaskan rasa kedamaian yang abadi yang terus ia cari di sepanjang perjalanan hidupnya. Dengan berbagai cara yang ia coba dan jalani itulah yang membuat ia menemukan sebuah kebijaksanaan yang tak dapat diunggkapkan layaknya sepuah pengetahuan. Hal itulah yang membuat Siddharta menemukana kedamaian yang selama ini ia cari.
2.      Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddhartha oleh Tokoh Kamala
Hegemoni yang terjadi pada toko Siddhartah yang dilakukan oleh Kamala merupakan Hegemoni yang berbentuk pengarahan pemikiran. Hal itu disebabkan Kamala yang mengarahkan Siddhartha menjadi seseorang yang kaya raya agar dapat belajar padanya seni bercinta. Berikut kutipannya:
... Belum pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana dengan rambut panjangnya dan menggenakan celana usang compang-camping datang padaku. Banyak pemuda yang datang padaku, dan beberapa di antaranya adalah putra para brahmin, tapi mereka datang menggenakan sepatu bagus, mereka wewanggian di rambutnya dan uang dikantongnya. Begitulah kualitas pemuda, samana, yang datang padaku.”(Hesse, 2005:84).
Sambil tertawa Kamala mengtakan, “belum, Teman terhorma, dia masih belum cukup baik. Dia harus menggenakan pakaina, pakaian yang indah, alas kaki yang bagus, uang melimpah di kantongnya—dan hadiah untuk Kamala. Apakah Anda mengerti samana dari hutan? Apakah Anda memahaminya?”(Hesse, 2005:85).
Kamala lah yang juga telah mengarahkan Siddhartha untuk belajar berdagang dengan seseorang yang bernama Kamaswarni agar ia bisa memenuhi syarat yang telah diajukannya jika ia ingin belajar seni bercinta darinya. Berikut kutipannya:
“Segalanyaberjalan baik,ujar Kamala padanya. “Kamu sudah ditunggu di rumah kamaswarni. Dia merupakan pedagang terkaya di kota ini. jika ia menyukaimu, dia akan memperkerjakanmu. Pintar-pintarlah, Samana berkulit coklat. Aku telah meminta orang lain untuk menceritakan  padanya tentang dirimu. Tunjukkan padanya kelebihanmu—dia sangat berkuasa. Tapi jangan menjadi terlalu rendah hati. Aku tidak ingin kmu menjadi pelayannya. Kamu harus sejajar dengannya, jika tidak aku tidak akan menyukaimu. Kamaswarni mulai tua dan cukup puas dengan dirinya. Jika ia menyukaimu, dia akan memmpercayakan bisnisnya padamu.”(Hesse, 2005:93)
            Berdasarkan kutipan di atas maka dapat diketahui adanya pengarahan pemikiran yang dilakukan Kamala pada Siddhartha agar menjadi seseorang yang kaya raya yang dapat memberikan keinginan Kamala jika ia ingin menjadi muridnya dalam seni bercintanya.
3.      Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddharta oleh Anaknya
Hegemoni yang terjadi pada tokoh Sidhartha merupakan hegemoni yang berbentuk penindasan. Hal itu dikarenakan sikap angkuh sang anak kepada Siddhartha. Sikap baik yang diberikan oleh Siddhartha semakin membuat ia sengsara karena ia tidak dapat menerima kehidupan yang miskin tidak seperti ketika ia bersma ibunya yang hidup serba kecukupan. Padahal ia berusah memberikan makanan terbaik yang dapat ia usahakan untuk diberikan kepada anaknya. Ia juga berusaha melakukan semua pekerjaan anaknya namun hal itu tak membuat si anak luluh terhadapnya. Berikut kutipannya:
Siddhartha berlaku lembut padanya dan membiarkan menempuh caranya sendiri... Siddhartha sadar kalaukesedihan kesedihan hati dari anak manja tidak mungkin begitu saja menerima keanehan dan kemiskinan dengan gembira. Dia tidak memaksanya. Dia melakukan sebagian besar pekerjaannya untuk anak itu, selalu berusaha mencari potongan makanan terbaik untuknya. Dia berharap lambat laun akan memenangkan hatinya melalui kebaikan dan kesabaran (Hesse, 2005:173).
Anak Siddhartha bukan luluh dengan sikap yang telah Siddhartha berikan kepadanya malah semakin muak dengan semua kebaikan yang telah diberikan Siddhrtha padanya. Ia bosan dikurung di dalam pondok Vasudeva yang buruk. Sampai suatu ketika ia tidak tahan akhirnya percekcokan terjadi antara Siddhartha dan anaknya. Pagi harinya ia pun melarikan diri untuk meningggalkan ayahnya. Ia pun membawa koin tembaga milik vasudeva. Ia melarikan diri dengan menggunakan rakit serta menghancurkan semua dayung milik vasudeva agar sang ayah tidak dapat menyusulnya. Setelah ia mengetahui bahwa anaknya telah meninggalkannya ia bergegas membuat rakit agar dapat munyusul anaknya yang telah kabur. Hal itu dilakukan karena rasa sayangnya terhadap anaknya hingga ia rela melakukan apa saja untuk dapat dekat dengan anaknya. Ia mengkhawatirkan anaknya tidak bisa keluar dari hutan sendirian. Pengejaran Siddhartha pun sia-sia sampai di tengah kota ia tidak dapat menemukan anaknya. Ia termenung di kota sebelum ia memutuskan untuk kembali ke pondok Vasudeva dengan membawa kenyataan bahwa anaknya tidak ingin bersamanya kembali sehingga anaknya memutuskan untuk meninggalkan Siddhatrha yang sangat menyayanginya.
            Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa anaknya telah menghegemoni perasaan Siddhartha. Siddhatrha yang sangat mencintai anaknya tetapi tidak mendapatkan balasan apaun dari anaknya. Ia mendapatkan kesedihan yang teramat dalam akibat ulah anknya yang telah meninggalkannya.

D.   Simpulan
Novel merupakan karya sastra yang di dalamnya memuat aspek-aspek sosial. Aspek-aspek sosial ini lah yang  digali untuk dapat menerapkan teori hegemoni. Aspek-aspek sosial ini dijadikan pijakan dalam membedah novel Siddhartha karena pada makalah ini mengaji novel dengan menggunakan kajian sosiologi sastra. Teori Hegemoni itu sendiri berarti dominasi kepemimpinan moral berdasar pandangan Gramsci.
Terlihat jelas dalam novel ini, di dalamnya telah mengungkap teori Gramsci itu sendiri dikaji dari aspek sosialnya bahwa kepemimpinan moral atau pengarahan pemikiran terjadi kepada beberapa tokoh tynag terlibat di dalamnya. Hegemoni yang ada pada novel ini sebenarnya bukan hanya terdapat tiga bahasan seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan namun pada makalah ini difokuskan kearah hegemoni yang tampak dominan yang terjadi antar tokoh yang terlibat di dalamnya.
            Hegemoni itu yang pertama terjadi pada tokoh Siddhartha oleh pemikirannya sendiri yang ingin menemukan sebuah kedamaian abadi hingga ia menempuh dengan berbagai macam cara. Hegemoni kedua terjadi pada tokoh Siddhartha oleh Kamala. Hegemoni itu berupa pengarahan pemikiran yaitu mengarahkan pemikiran Siddhartha untuk menjadi seorang yang kaya raya agar dapat menjadi muridnya untuk belajar seni bercinta. Untuk menjadi murid Kamala Siddhartha harus dapat memenuhi keinginan Kamala, yaitu memilki banyak uang sehingga dapat memberikan hadiah pada Kamala. Hegemoni yang terakhir yaitu hegemoni pada tokoh Siddhartha oleh anaknya sendiri. Hegemoni itu berupa penindasan perasaan yaitu dengan mengacuhkan semua perbuatan baik Siddhartha terhadapanya. Ia tidak menerima Siddhartha sebagai ayahnya karena keadaan Siddhartha yang miskin dan serba kekurangan.
            Dari aspek-aspek sosial yang ada pada cerpen dapat kita temukan bahwa aspek-aspek sosial  yang ada tersebut terdapat hegemoni yang dilakukan oleh seorang tokoh yang meghegemoni tokoh lain yang ada di dalamnya. Hegemoni itu berupa pengarahan pemikiran serta terdapat pula hegeoni yang berupa penindasan. Penindasan yang ada bukan berupa penindasan fisik melainkan penindasan pemikiran.

Daftar Pustaka
Agger, Ben. 2003. Teori Sosial Kritis Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Barker, Cheris. 2004. Cultural Studies Praktek dan Teori. Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Hesse, Hermann. 2005. Siddhatrha. Yogyakarta : JEJAK.
Kutha Ratna, Nyoman. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakrata : Pustaka Pelajar.
Lull, James. 1998. Media Komunikasi Kebudayaan Suatu Pendekatan Global. Pengantar: Parakitri T. Simbolon. Jakarta :Yayasan Obor Indonesia.
Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop Memetakan Lanskap Konseptual Cultutal Studies. Yogyakarta : CV. Qalam.
Sugiono, Muhadi. 1999. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

No comments:

Post a Comment