Sunday, April 15, 2012

rintihan hati

Sebuah Rintihan Hati

sunyi dan gelap perasaan ini..
entah bagaimana aku bisa mengungkapkan segala apa yang telah kurasakan saat ini...
aku tak tahu kepada siapa harus ku tumpahkan rasa yang membebani pikiran ku hingga tak kuasa aku berdiri tegar...
tak satu pun orang mengetahui perasaan ku...
diam dan hanya diam yang bisa kulakukan..
pernah ku ungkapkan rasa ini namun hanya menimbulkan masalah bagi kehidupannya...

berkali-kali aku bertanya pada hati kecil ku...
siapa yang akan mengerti persaan ini??
dalam keheningan ku temukan sebuah jawaban..
ya... dia adalah Allah maha mengetahui segala yang apa aku rasakan..
tak bosan-bosan aku mengadu pada Mu...
hanya engkaulah yang memahami perasaan ini...
Aku tak akan banyak berharap kepada orang lain karena aku takut hanya menjadi beban baginya dan keluhan yang aku dengar dibelakang ku...

Sunday, February 5, 2012

proposal kualitatif


PROPOSAL PENELITIAN
GAYA BAHASA WARIA DI SIDOARJO DALAM KONTEKS PERSPEKTIF MASYARAKAT
(KAJIAN SOSIOLINGUISTIK)
Oleh :
Siti Rumaiyah
O92144031
Universitas Negeri Surabaya
Fakultas Bahasa dan Seni
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Prodi Sastra Indonesia

2011
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
            Waria merupakan singkatan dari wanita pria merujuk pada orang-orang yang secara biologis atau fisik berkelamin laki-laki tetapi berpenampilan serta berperilaku seperti atu mengidentifikasikan diri sebagai perempuan (Sumarsono, 2011;130).. Ada dua padanan kata ini, yaitu (1) wadam, hawa dan adam dan (2) banci. Ketiga definisi kata tersebut menunjuk pada satu keadaan yang sama, yaitu seorang berjenis kelamin pria yang merasa dirinya wanita.Waria merupakan memiliki sebuah komunitas sehigga waria memiliki bahasa yang hanya dimengerti oleh sesamanya karena bahasa yang mereka gunakan bersifat rahasia. Kerahasiaan ragam bahasa waria ini disebabkan adanya kosakata yang berbeda  dengan kosakata umum. Ragam bahasa waria ini memiliki kaidah pembentukan tersendiri. Melalui kajian sosiolinguistik ini peneliti akan meneliti bagaimana bahasa waria berperspektif dalam masyarakat. Di mana pada saat ini waria merupakan kelompok sosial tetentu yang kehadirannya masih banyak menimbulkan konflik di masyarakat. Fishman (1972) dalam Chaer dan Agustina mengatakan bahwa sosiolinguistik adalah kajian tentang cirri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur. Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah kajian tentang cirri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini berkaitan satu sama lain dalam masyarakat tutur. Adapun Chaer dan agustina mengatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antar disiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu dalam masyarakat.    
Penelitian ragam bahasa waria yang peneliti lakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana waria memakai bahasa dalam guyup tuturnya dan apakah bahasa waria ini berpengaruh terhadap masyarakat. Ragam bahasa waria ini menarik untuk diteliti karena bahasa waria ini memiliki kaidah pembentukan tertentu. Dengan adanya penelitian ini kita dapat mengetahui perspektif gaya bahasa waria itu ke dalam masyarakat. Di mana masyarkat masih menggangap tabuh waria itu berada pada lingkungannya. Meskipun demikian tetapi waria masih tetap saja ada. Dan baru-baru ini telah banyak waria yang sudah bisa di terima oleh masyarakat sekitarnya. Para waria tidak seharusnya dikucilkan oleh masyarakat karena waria itu sendiri adalah bagian dari masyarakat. Setiap masyarakat pasti memiliki bahasa yang digunakan dalam guyup tuturnya, begitu pula waria.
            Melalui penelitian yang peneliti lakukan ini  peneliti mengharapkan dapat mengetahui perpektif bahasa waria pada masyarakat. Dengan mengetahui perpektif bahasa waria ini diharapkan kita dapat memahami bahasa waria itu sendiri.

B.  Fenomena dan Fokus Penelitian
1.    Fenomena
Waria memiliki guyup tutur tersendiri sehingga waria memiliki gaya bahasa yang khas yang hanya dapat dimengerti oleh sesama waria.
2.    Fokus
Berdasar  uraian latar belakang di atas maka fokus penelitian ini sebagai berikut:
a.       Kosa kata bahasa waria.
b.      Struktur kalimat bahasa waria.
c.       Gaya bahasa waria.
d.      Simbol-simbol bahasa waria dan maknanya.
e.       Ragam bahasa waria.
f.       Keadaan sosial waria.

C.  Tujuan
Dari fokus maka tujuan dapat di rumuskan. Tujuan pada penelitian ini sebagai berikut:
1.      Kosa kata bahasa waria.
2.      Struktur kalimat bahasa waria.
3.      Gaya bahasa waria.
4.      Simbol-simbol bahasa waria dan maknanya.
5.      Ragam bahasa waria.
6.      Keadaan sosial waria.

D.   Manfaat
Manfaat teoritis : Dapat memberikan sumbangan teori dalam bidang keilmuan linguistik pada umumnya dan pada bidang sosiolinguistik pada khususnya. Hal itu dikarenakan pada penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti merupakan kegiatan yang meneliti gaya bahasa waria dalam konteks perrpektif masyarkat ini merupakan bidang kajian linguistik tepatnya sosiolinguistik. Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti diharapkan akan memberikan hal yang baru terhadap perkembangan sosiolinguistik yang berhubungan dengan bahasa dan gender dimana yaitu gaya bahasa waria.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

A.  Kajian Pustaka
          Penelitian seseorang dapat diketahui keasliannya melalui tinjauan pustaka, yang merupakan paparan hasil penelitian yang dilkukan oleh peneliti lainnya. Ada beberapa penelitian yang relefan dengan penelitian ini sebagai tinjauan pustaka  yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
          Penelitian Sundari (2008) berjudul “Penggunaan Bahasa Prokem Waria di Kota Trenggalek”. Dari analisa data yang telah dilakukan peneliti dapat ditarik kesimpulan Bahasa prokem waria di Kota Trenggalek, dapat berupa (1) kata, (2) singkatan dan akronim. Bentuk prokem ini merupakan pokok yang akan dianalisis. Dari hasil analisis tersebut dapat memberikan gambaran objektif tentang pola pembentukan kata, fungsi, dan makna dari prokem waria di Kota trenggalek. Terdapat persamaan dengan penelitian ini antara lain analisis variasi bahasa dan fungsi pengungkapan bahasanya. Adapun perbedaannya terletak pada data yang diteliti. Sundari meneliti tentang penggunaan bahasa prokem waria di Kota Trenggalek, sedangkan peneliti mengkaji gaya bahasa waria di Sidoarjo dalam konteks perspektif masyarakat.
          Penelitian Jaya Putra Nugraha (2009) berjudul “Pola Komunikasi Interpersonal Komunitas Waria di Bank Indonesia”. Pada penelitian Nugraha memilki 2 tujuan : 1. Memperoleh penjelasan mengenai pola komunikasi dalam komunitas waria. 2. Mengetahui pola komunikasi interpersonal komunitas waria dalam ruang lingkup lingkungannya. Terdapat persamaan dengan penelitian ini yaitu objeknya berupa variasi bahasa waria. Adapun perbedaannya terletak pada data yang diteliti. Nugraha meneliti tentang pola komunikasi interpersonal komunikas wari di Bank Indonesia, sedangkan peneliti mengkaji gaya bahasa waria di Sidoarjo dalam konteks perspektif masyarakat.
          Dari berbagai penelitian yang telah dikemukakan diatas, penulis membatasi kajian dalam penelitian yang berjudul mengkaji Gaya Bahasa Waria di Sidoarjo dalam Konteks Perspektif Masyarakat ini pada kosakata bahasa waria, struktur kalimat, gaya bahasa waria, simbol dan maknaya, ragam bahasa, dan keadaan sosial waria.

B.  Teori atau Konsep Penelitian
1.      Kata dan Kosakata
     Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:597) menyatakan bahwa kosakata adalah
perbendaharaan kata. Shinmura dalam Dahidi dan Sudjianto (2004:97) kosakata juga dapat dikatakan sebagai keseluruhan kata (tango) berkenaan dengan suatu bahasa atau bidang tertentu yang ada di dalamnya. Kosakata merupakan bagian dari suatu bahasa yang mendasari pemahaman dari bahasa tersebut. Kualitas kosakata yang dimiliki siswa mempengaruhi empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Soedjito dalam Karyani (2009:19) mengungkapkan bahwa kosakata dapat diartikan semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa, kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara/penulis, kata yang dipakai dalam suatu bidang ilmu pengetahuan dan daftar kata yang disusun seperti kamus yang disertai penjelasan secara singkat dan praktis. Menurut Keraf (1985:68) perbendaharaan kata atau kosakata adalah daftar kata-kata yang segera kita ketahui artinya bila mendengar kembali walaupun jarang atau tidak pernah digunakan lagi dalam percakapan atau tulisan sendiri, perbendaharaan kata atau kosakata adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh suatu bahasa. Tarigan dalam Rosmalela (2008:54) penguasaan kosakata dikelompokkan sebagai berikut:
a.    Penguasaan kosakata represif atau proses decoding, artinya proses memahami apa-
apa yang dituturkan oleh orang lain. Represif diartikan sebagai penguasaan yang
bersifat pasif, pemahaman hanya dalam proses pemikiran.
b. Penguasaan produktif atau proses encoding yaitu proses mengkomunikasikan ide,
pikiran, perasaan melalui bentuk kebahasaan atau dengan kata lain pemahaman kosakata dengan cara mampu menerapkan kosakata yang bersangkutan dalam suatu
konteks kalimat. Dengan demikian akan jelas makna yang dikandung oleh kosakata
tersebut.
c. Penguasaan penulisan yang juga tidak kalah pentingnya dengan penguasaan kosakata
secara produktif dan resertif. Oleh sebab itu, walaupun seseorang mampu memahami
makna suatu kata dan mampu pula menerapkannya dalam rangkaian kalimat, tetapi
bila ia tidak menguasai penulisannya yang benar dan sesuai aturan, maka hal itu
berarti bahwa ia belum menguasai kata atau kosakata yang bersangkutan secara
sempurna.

2.         Struktur Kalimat
       Kalimat umunya berwujud rentetan kata yang disusun sesuai kaidah yang berlaku. Tiap kata dalam kalimat memilki tiga klasifikasi, yaitu berdasarkan (1) kategori sintaksis, (2) fungsi sintaksis, (3) peran semantisnya (Alwi, 2003:35). Kalimat juga dapat berarti satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan maupun tulisan yang mengunggkapkan pikiran yang utuh. Dari segi bentuknya, kalimat dapat dirumuskan sebagai konstruksi sintaksis terbesar yang terdiri atas dua kata atau lebih. Hubungan struktural antara kata dan kata, atau kelompok kata dengan kelompok kata yang lain, berbeda-beda. Sementara itu, kedudukan tiap kata atau kelompok kata dalam kalimat itu berbeda-beda pula.
       Di dalam kalimat terdapat unsur-unsur yang membnagun. Alwi mengelompokkak sintaksi unsur-unsur kalimat menjadi lima yaitu predikat, subjek, objek, pelengkap dan keterangan (2003:326). 

3.         Gaya bahasa
            Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan bahasa sedemikian rupa, sehingga kesan dan efek terhadap pembaca atau pendengar dapat dicapai semaksimal dan seintensif mungkin. Gaya merupakan salah satu cabang ilmu tertua dalam bidang kritik sastra. Menurut Fowler (via Ratna) makna-makna yanng diberikan sangat kontraversial, relevansinya menimbulkan banyak perdebatan. Gaya terkandung dalam semua teks, bukan bahasa tertentu, bukan semata-mata teks sastra. Gaya adalah ciri-ciri, standar bahasa,  gaya adalah cara ekspresi. Meskipun demikian, pada umumnya gaya dianggap sebuah istilah khusus, semata-mata dibicarakan dan denagn demikian dimanfaatkan dalam bidang tetentu. 

4.         Teori simbol
       Ketika masyarakat majemuk berinteraksi dengan masyarakat lain yang berbeda budaya, maka tatkala proses komunikasi dilakukan, simbol-simbol verbal atau nonverbal secara tidak langsung dipergunakan dalam proses tersebut. Penggunaan simbol-simbol ini acapkali menghasilkan makna-makna yang berbeda dari pelaku komunikasi, walau tak jarang pemaknaan atas simbol akan menghasilkan arti yang sama, sesuai harapan pelaku komunikasi tersebut.
       Maka, simbol yang diartikan Pierce sebagai tanda yang mengacu pada objek itu sendiri, melibatkan tiga unsur mendasar dalam teori segi tiga makna : simbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih dan hubungan antara simbol dengan rujukan (Sobur, 2003 : 156). Di sini dapat dilihat, bahwa hubungan antara simbol sebagai penanda dengan sesuatu yang ditandakan (petanda) sifatnya konfensional. Berdasarkan konvesi tersebut, Alex Sobur (2003 : 156) memaparkan, masyarakat pemakainya menafsirkan ciri hubungan antara simbol dengan objek yang diacu dan menafsirkan maknanya.
       Simbol tidak dapat hanya disikapi secara isolatif, terpisah dari hubungan asosiatifnya dengan simbol lainnya. Simbol berbeda dengan bunyi, simbol telah memiliki kesatuan bentuk dan juga makna. Maka, pada dasarnya simbol dapat dibedakan menjadi simbol-simbol universal, simbol kultural yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan tertentu, dan simbol individual (Hartoko-Rahmanto, 1998 : 133).

Sedangkan dalam “bahasa” komunikasi, simbol ini seringkali diistilahkan sebagai lambang. Di mana simbol atau lambang dapat diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan kelompok/masyarakat (Sobur, 2003 : 157). Lambang ini meliputi kata-kata (berupa pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama. Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal dan nonverbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan objek (fisik, abstrak dan sosial) tanpa kehadrian manusia dan objek tersebut.
       Inilah yang dilakukan masyarakat suku Amungme, di mana dalam kebudayaan masyarakat tersebut, simbol-simbol/lambang digunakan untuk menunjuk objek fisik dan objek abstrak dalam kehidupan mereka, yang telah mereka yakini secara turun-temurun. Gunung dan tanah disimbolkan sebagai ibu mereka yang memberikan kehidupan dan kematian pada nantinya. Air-air sungai yang membelah perkampungan masyarakat suku Amungme ini dimaknai sebagai air susu yang mengalir melalui payudara sang ibu. Dapat dikatakan, bahwa masyarakat tersebut telah melakukan simbolisasi yang maknanya telah disepakati bersama.
       Walaupun simbol/lambang merupakan salah satu kategori tanda (sign), dan Pierce pun menyatakan bahwa tanda (signs) terdiri atas ikon, indeks dan simbol, akan tetapi simbol dan tanda adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan itu terletak pada pemaknaan keduanya terhadap objek-objek yang ada di sekelilingnya. Tanda berkaitan langsung dengan objek dan tanda dapat berupa benda-benda serta tanda-tanda yang merupakan keadaan. Sedangkan simbol, seperti yang dikutip Sobur (2003 : 160-62), memerlukan proses pemaknaan yang lebih intensif setelah menghubungkan simbol dengan objek, simbol pun lebih sustensif daripada tanda.
       Sedangkan Saussuren berpendapat, simbol merupakan diagram yang mampu menampilkan gambaran suatu objek meskipun objek itu tidak dihadirkan. Sebuah simbol, dalam perspektif Saussuren, adalah jenis tanda di mana hubungan antara penanda dan petanda seakan-akan bersifat arbitrer. Konsekuensinya, hubungan antara kesejarahan mempengaruhi pemahaman pelaku komunikasi, yaitu individu/masyarakat (Sobur, 2003 : 158-62).
       Hubungan antara simbol dengan komunikasi adalah simbol dan juga komunikasi, tidak muncul dalam suatu ruang hampa sosial, melainkan dalam suatu konteks atau situasi tertentu. Di mana pada dasarnya konteks merupakan suatu situasi dan kondisi yang bersifat laihr dan batin yang dialami para peserta komunikasi. Menurut Liliweri (2001 : 198) seperti yang dikutip Alex Sobur dalam Semiotika Komunikasi, konteks dikenal dalam beberapa bentuk, antara lain : konteks fisik, konteks waktu, konteks historis, konteks psikologis dan konteks sosial budaya.
       Masih berhubungan dengan uraian di atas, Mead (dalam Mulyana, 2001 : 80) membedakan simbol menjadi simbol signifikan (significant symbol) dan tanda alamian (natural signs). Menurut Mead, simbol signifikan yang merupakan bagian dari dunia makna digunakan dengan sengaja sebagai sarana komunikasi. Sedangkan tanda alamiah yang merupakan bagian dari dunia fisik digunakan secara spontan dan tidak sengaja dalam merespon stimuli. Di mana makna simbol secara sembarang dipilih dan berdasarkan kesepakatan yang tidak memiliki hubungan kausal dengan apa yang direpresentasikannya (Sobur, 2003 : 163).
       Karena kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang dan sifat dasar manusia adalah kemampuannya menggunakan simbol, maka simbol adalah sesuatu yang berdiri/ada untuk sesuatu yang lain, kebanyakan diantaranya bersembunyi atau tidaknya, tidak jelas. Selan itu menurut Sussane Langer (dalam Johannesen, 1996 : 47), bahwa dengan kebutuhan dasar akan simbolisasi yang mungkin tidak dimiliki makhluk lain –selain manusia- maka simbolisasi akan berfungsi secara kontinu dan merupakan proses yang fundamental pikiran manusia.
       Dengan keunikan ini, maka manusia sebagai pelaku komunikasi dapat segera mengubah data tangkapan indra menjadi simbol-simbol, dan manusia dapat menggunakan simbol-simbol untuk menunjuk kepada simbol lain dan untuk mewariskan pengetahuan, wawasan, juga kebudayaan yang terpendam dari generasi ke generasi (Sobur, 2003 : 164). Maka, simbol dapat berdiri untuk suatu institusi, cara berpikir, ide, harapan dan banyak hal lainnya. Melalui simbolisasi ini pula, dapat dikatakan bahwa manusia sudah memiliki kebudayaan yang tinggi dalam berkomunikasi, seperti adanya bunyi, isyarat sampai kepada simbol yang dimodifikasi dalam bentuk sinyal-sinyal melalui gelombang udara dan cahaya (Sobur, 2003 : 164)
5.         Ragam Bahasa
       Ragam bahasa (Chaer, 2010) merupakan variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara . Ragam bahasa dalam bahasa Indonesia berjumlah sangat banyak. Maka itu, ia dibagi atas dasar pokok pembicaraan, perantara pembicaraan, dan hubungan antarpembicara.
            Dalam penelitian yang akan peneliti lakukan ini peneliti berfokus pada ragam bahasa yang berdasar pokok pembicaraan. Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Begitu pula bahasa yang digunakan oleh para waria. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa. Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan.

6.      Kelas sosial K. Marx
             Teori kelas ini sendiri berdasarkan pemikiran bahwa : “ sejarah dari segala bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian antar golongan “. Analisanya Marx selalu mengemukakan tentang bagaimana hubungan antarmanusia terjadi dilihat dari hubungan antara posisi masing – masing terhadap sarana – sarana produksi , yaitu dilihat dari usaha yang berbeda dalam mendapatkan sumber – sumber daya yang langka. Ia mencatat bahwa perbedaan atas sarana tidak selalu menjadi sebab dari pertikaian antargolongan. Marx beranggapan kuat bahwa posisi di dalam struktur yang seperti ini selalu mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang bertujuan untuk memperbaiki nasib mereka. Walaupun demikian, kepentingan golongan tidak dianggap sebagai sesuatu yang paling utama di dalam sosiologi Marx. Orang – orang berkembang di bawah lindungan orang – orang yang menduduki posisi sosial tertentu dan menuju ke arah sosial tertentu pula. Marx sendiri beranggapan bahwa meskipun gejala – gejala historis adalah hasil dari mempengaruhi antarberbagai komponen, namun pada analisa terakhir hanya ada satu independent variable yaitu faktor ekonomi. Dan menurut Marx sendiri, perkembangan – perkembangan politik, hukum, filsafat, kesusasteraan serta kesenian, semuanya tertopang pada faktor ekonomi.























BAB III
METODE PENELITIAN DAN TEKNIK PENELITIAN

A.  Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode atau pendekatan eksploratif kualitatif dengan rancangan studi kasus. Menurut Brannen (Alsa, 2003) Pendekatan kualitatif berasumsi bahwa manusia adalah makhluk yang aktif, yang mempunyai kebebasan kemauan, yang perilakunya hanya dapat difahami dalam konteks budayanya, dan perilakunya tidak didasarkan pada hukum sebab-akibat. Oleh sebab itu logis jika penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif tidak bertujuan untuk membuat hukum-hukum melainkan bertujuan untuk memahami objeknya.
Alsa (2003) mengatakan bahwa penelitian dengan rancangan studi kasus dilakukan untuk memperoleh pengertian yang mendalam mengenai situasi dan makna sesuatu atau subjek yang diteliti. Penelitian studi kasus lebih mementingkan proses daripada hasil, lebih mementingkan konteks daripada variabel khusus, lebih ditujukan untuk menemukan sesuatu daripada kebutuhan konfirmasi. Pemahaman yang diperoleh dari studi kasus dapat secara langsung mempengaruhi kebijakan, praktek dan penelitian berikutnya.
Moleong (1991) menjelaskan bahwa “penelitian kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian. Memanfaatkan metode kualitatif mengandalkan analisis data secara induktif, bersifat deskriptif, mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi dengan fokus dan memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data, rancangan penelitian bersifat sementara, hasil disepakati kedua pihak yaitu peneliti dan subjek penelitian”.
Bogdan dan Taylor mendefinisikan “metode kualitataif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati” (Moleong, 1991: 11).

B.  Objek Penelitian
                  Objek penelitian peneliti adalah ragam bahasa waria dalam perspektif masyarakat. Peneliti memilih objek penelitian ini dikarenakan peneliti ingin bagaimana perspektif bahasa waria pada dalam masyarakat sekitar.

C.  Lokasi Penelitian
                  Lokasi penelitian yang akan peneliti jadikan sasaran adalah Bundaran Waru kabubaten Sidoarjo. Lokasi ini dipilih oleh peneliti karena tempat tersebut merupakan pangkalan waria. Pada tempat ini waria biasanya berkumpul sesama guyup tuturnya dan melakukan interaksi menggunakan gaya bahasa waria itu sendiri.

D.  Setting Penelitian
                  Setting penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah berada di Bundaran Waru. Bundaran waru merupakan tempat para waria melakukan aktivitas sesama guyup tuturnya. Di mana ketika waria ini berkomunikasi dapat diketahui bahasa waria ini apakah berpengaruh dalam masyarakat.

E.  Sumber Data
a.   Data Primer
                  Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan. Dalam penelitian ini, data primer bersumber komunitas Waria.
b.  Data Sekunder
                  Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Dalam penelitian ini, data berasal dari laporan-laporan, wawancara, studi pustaka dan arsip yang berkaitan.

F.    Cara Memasuki Lokasi Penelitian
                  Untuk memasuki lokasi penelitian peneliti menggunakan cara informal, hal itu dikarenakan peneliti akan menggambil data yang sifatnya rahasia yang hanya di ketahui oleh waria dan guyup tuturnya. Dengan dipilihnya cara informal bertujuan untuk mendapatkan data agar bersifat objektif.

G. Tahap-Tahap Penelitian
Moleong (1991:15) mengemukakan bahwa ’’Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1)tahap sebelum ke lapangan, (2) tahap pekerjaan lapangan, (3) tahap analisis data, (4) tahap penulisan laporan.” Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut :
1.    Tahap sebelum kelapangan, meliputi kegiatan penentuan fokus, penyesuaian paradigma dengan teori, penjajakan alat peneliti, mencakup observasi lapangan , konsultasi fokus penelitian, penyusunan usulan penelitian.
2.    Tahap pekerjaan lapangan, meliputi mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan gaya bahsa waria yang ada di Bundaran Waru. Data tersebut diperoleh dengan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat gaya bahasa waraia, kebiasaan waria.
3.    Tahap analisis data, meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi, dokumen maupun wawancara mendalam dengan waria. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti.
4.    Tahap penulisan laporan, meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan proposal penelitian ini.



H.  Peran Peneliti
                  Untuk melakukan penelitian ini peneliti menggunakan peran intelejen. peneliti berpura-pura menjadi seorang pedagang asongan demi mendapatkan seorang inforamn waria serta mendapatkan data yang objektif.

I.       Metode Pengumpulan Data
                  Motode pengumpulan data  yang peneliti lakukan adalah dengan menggunakan metode wawancara. Wawancara merupakan “salah satu metode dalam tahap penyediaan data yang dilakukan dengan cara peneliti melakukan percakapan atau kontak dengan penutur selaku narasumber” (Mahsun, 2007:250).        Metode wawancara ini terbagi atas cakap semuka dan cakap taksemuka.
“Diberi nama teknik cakap semuka karena si peneliti melakukan percakapan secara langsung di suatu tempat dengan informannya, sedangkan dinamakan teknik cakap taksemuka karena si peneliti tidak bertemu secara langsung dengan informan yang dijadikan sumber datanya”(Mahsun, 2007:250).   
                  Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik wawancara atau cakap semuka untuk membahas fokus dari penelitian peneliti, yaitu dengan membuat data-data pertanyaan sebelum peneliti melakukan pertanyaan. Hal peneliti itu peneliti lakukan karena peneliti ingin mendapatkan kosakata dari ragam bahasa waria. Dengan adanya daftar pertanyaan ini peneliti harapkan wawancara dapat berjalan sesuai dengan yang peneliti harapkan.
                  Wawancara yang peneliti lakukan bertujuan untuk mengambil data di lapangan. Wawancara ini untuk memenuhi data fokus penelitia peneliti yaitu: kosakata bahasa waria, struktur kalimat bahasa waria, gaya bahasa waria, simbol dan makna dalam gaya bahasa waria, ragam bahasa, dan keadaan sosial waria yang akan peneliti teliti. Dengan wawancara peneliti berharap data yang akan peneliti dapatkan berupa data yang objektif, sehingga peneliti dapat mengetahui keadaan sosial waria serta ragam bahasanya.
                  Tidak hanya menggunakan wawancara saja melainkan dengan di dukung menggunakan metode simak. Metode simak adalah “metode yang digunakan dalam penyediaan data dengan cara peneliti melakukan penyimakan penggunaan bahasa. Metode ini memiliki teknik dasar, yakni teknik sadap” (Mahsun, 2007:243). Dikatakan demikian karena dalam praktik penelitian sesungguhnya penyimakan itu dilakukan penyadapan pemakaian bahasa dari informan. Sebagai teknik dasar, maka ia memilki teknik lanjutan, yakni teknik bebas libat cakap dan teknik simak libat cakap, catat dan rekam.
                  Metode simak bebas libat cakap dimaksudkan peneliti menyadap perilaku berbahasa di dalam suatu peristiwa peristiwa tutur dengan tanpa keterlibatannya dalam peristiwa tutur. Teknik ini digunakan dengan dasar pemikiran bahwa perilaku bahasa hanya dapat benar-benar dipahami jika peristiwa itu berlangsung dalam keadaan sesungguhnya dan berada dalam konteks yang lengkap. Oleh karena itu diperlukan metode lanjutan yang berupa teknik rekam.
                  Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik simak bebas libat cakap dan dilanjutkan dengan teknik rekam metode ini digunakan untuk memenuhi data fokus penelitian peneliti yaitu: kosakata bahasa waria, struktur kalimat bahasa waria, gaya bahasa waria, simbol dan makna dalam gaya bahasa waria, ragam bahasa, dan keadaan sosial waria yang akan peneliti teliti yang akan diteliti.

J.    Prosedur Analisis Data, Jenis Data, dan Teknik Pengumpulan Data
1. Teknik Analisis Data
            Menurut Alsa (2003) dalam penelitian kualitatif, karena data terdiri dari teks maka setelah terkumpulnya data base teks, kemudian dilakukan analisis teks dengan memasukkan kedalam kelompok-kelompok kalimat dan menetapkan arti. Keseluruhan laporan kualitatif umumnya merupakan deskripsi yang panjang untuk memberikan gambaran kompleks mengenai fenomena. Dari gambaran kompleks ini peneliti membuat interpretasi tentang makna data melalui refleksi. Refleksi berarti bahwa peneliti merefleksikan bias, nilai, dan asumsi-asumsi personal mereka kedalam penelitiannya.
                Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dengan menganalisis hasil wawancara. Hasil wawancara dirangkum sebagai catatan otobiografi objek dan mengetahui kosakata bahasa waria. dengan mengetahui catatan otobiografi dapa diketahui bagaimana kelas sosial seorang waria dalam masyarakat serta peranan bahasa waria itu sendiri ke dalam masyarakat. Sedangkan kosakata yang dihasilkan digunakan untuk mengetahui ragam bahasa waria dalam perspektif masyarakat.

2.         Prosedur Analisis Data
a)           Seleksi data. Pada tahap ini peneliti malakukan seleksi terhadap data yang telah dihimpun, kemudian
b)   Ditulis dalam bentuk verbatim (hardcopy), selanjutnya peneliti melakukan
c)      Probing (dengan tidak membuang data asli), kemudian peneliti melakukan
d)     Dalami teori, konsep. Pada tahap ini peneliti mendalami lagi teori, konsep yang terkait untuk memastikan apakah data yang diperoleh sudah cukup atau masih kurang.
e)      Lakukan coding. Pada tahap ini peneliti akan melanjutkan pada proses (open, axial dan selective coding).
f)   Peneliti menulis temuan penelitian yang merupakan jawaban atas permasalahan penelitian, dan membuat kesimpulan.


3.      Jenis Data
                  Data yang peneliti  gunakan dalam penelitian ini merupakan data emik. Hal itu dikarenakan data bersumber dari informan.

K.    Teknik Menguji Keabsahan Data
                  Untuk mendapatkan data yang absah maka perlu dilakukan teknik pengujian keabsahan. Teknik pengujian keabsahan data yang peneliti lakukan pada penelitian ini dengan menggunakan cara dependabiliti (konfirmasi). Konfirmasi ini peneliti lakukan dengan menanyakan pertanyaan yang sama kepada beberapa informan di Sidoarjo. Dengan adanya konfirmasi ini peneliti merasa yakin bahwa data yang peneliti dapatkan merupakan data yang absah yang sifatnya objektif.

L.     Tingkat Memperoleh Kepercayaan Hasil Penelitian
                  Peneliti melakukan teknik triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang menekankan adanya penggunaan lebih dari satu metode yang berfungsi sebagai rechecking terhadap informasi atau data yang diperoleh.
                  Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik wawancara untuk memperoleh data yang objektif dari lapangan yang diikuti dengan perekaman hasil wawancara serta aktivitas para waria di tempat panggkalannya. Dengan data yang objektif ini diharapakan peneliti dapat memperoleh hasil penelitian yang maksimal.



M.   Teknik mengakhiri penelitian
Peneliti mengakhiri penelitian jika peneliti telah merasa jenuh. Jenuh di sini yang dimaksudkan adalah data yaag diperoleh oleh peneliti sudah beberapa diklarifikasikan ke beberapa informan hasilnya tetap sama oleh karena itu penelitian ini dianggap berakhir.




           


Daftar Pustaka
Alsa, A. 2003. Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif serta Kombinasinya dalam Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Alwi, H . (2003). Tata Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Bogdan, R. & Taylor, S. 1993. Kualitatif (Dasar-dasar Penelitian) (terjemahan). Surabaya;Usaha Nasional.
Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistil : perkenalan awal. Jakarta : Asdi Mahasatya.
Kosakata. (n.d.). Retrieved 11 27, 2011, from http://repository.upi.edu/operator/upload/s_c0551_0606301_chapter2
Lexy J Moleong. 1991. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Mahsun. 2007. Metode Penelitian Bahasa Tahapan Strategi Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Nugraha, Cahaya Putra. 2009. Proposal Meetode Penelitian Komunikasi. http://agungpers.blogspot.com
Sumarsono. 2011. Sosiolinguistik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sundari. 2008. “Penggunaan Bahasa Prokem Waria di Kota Trenggalek”. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Suseno, Franz Magnis. 2001. Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionerisme. Jakarta: PT. Gramedia.
Teori Simbol. (n.d.) Retrieved from 11 27, 2011, http://5martconsultingbandung.blogspot.com/2010/11/teori-simbol.html

Hegemoni yang terjadi pada Antar Tokoh yang terlibat di dalam Novel Siddhartha


Hegemoni yang terjadi pada Antar Tokoh yang terlibat di dalam Novel Siddhartha
Oleh :
Siti Rumaiyah
O92144031
Universitas Negeri Surabaya
Fakultas Bahasa dan Seni
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Prodi Sastra Indonesia

2011


Abstrak
Novel Siddhartha merupakan novel karangan Hermann Hesse. Pada novel ini terdapat problematika yang dialami oleh tokoh utama yang bernama Siddhartha. Problematika kompleks yang ada pada novel ini menjadikan novel Siddhartha ini menarik untuk dikaji dengan berbagai macam kajian serta teori dalam menganalisis. Teori yang dapat digunakan itu bermacam-macam salah satunya adalah dengan menggunakan kajian sisiologi sastra dengan menggunakan teori hegemoni. Hegemoni ini akan membahas pengarahan pemikiran yang dirasakan oleh tokoh utama yang bernama Siddartha oleh pikirannya sendiri hingga ia melakukan berbagai macam cara agar dapat terbebas dari belenggu hegemoni pikirannya untuk mencapai sebuah kedamaian yang abadi. Analisis hegemoni tidak terhenti disitu saja namun berlanjut dengan hegemoni-hegemoni lain yang terjadi pada sebagian tokoh-tokoh yang hadir dalam novel Siddhatha ini.

Kata Kunci
Sosiologi sastra, Hegemoni, dan novel Siddartha.

A.Latar Belakang
Karya satra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Karya sastra itu bersifat dinamis berjalan sesuai dengan perkembangan masyarakat karena karya sastra itu hasil ciptaan seseorang yang merupakan bagian dari masyarakat. Di dalam masyarakat seorang individu menjalani berbagai macam kejadian yang ia alami. Dari kejadian yang ia alami yang ada pada dunia nyata itulah sebagai bahan dasar ide dalam penulisan karya sastra.
            Dari pengertian di atas maka dalam mengkaji karya satra kita dapat menghubungkan dengan sosiologi sastra. Dimana ilmu tersebut membahas karya sastra yang di hubungkan dengan masyarakat. Sosilologi sastra juga dapat di definisikan sebagai pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya.( Ratna, 2:2011).
Dengan dua pengertian tersebut maka karya sastra dapat dihubungkan dengan masyarakat. Karya sastra sesungguhnya adalah dunia miniatur, karya sastra berfungsi sebagai pengekspresian kejadian-kejadian, yang telah dikerangkakan dalam pola kreativitas dan imajinasi.
            Ketika menghubungkan karya sastra dengan masyarakat maka kita akan memahami karya sastra dari sudut pandang sosiologi sastra. Dalam sosiologi sastra terdapat berbagai teori yang dapat digunakan. Salah satunya adalah teori hegemoni. teori hegemoni terdapat dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas soial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantudengan dominasi atau penindasan.
            Teori hegemoni ini akan  diterapkan pada salah satu karya sastra yakni novel yang berjudul “Siddhartha”. penulis akan membahas novel ini dengan menganalisis kejadian-kejadian dalam karya sastra yang terdapat kepemimpinan dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan. Novel dengan judul “Siddhartha” ini merupakan novel karangan Hermann Hesse yang mengisahkan kehidupan tokoh utama yang bernama Siddartha. Pada cerita yang ada di dalam novel Siddharta ini ia merasa ditindas oleh dirinya sendiri yang binggung untuk mendapatkan kedamaian hidup. Siddartha mencoba segala macam cara untuk dapat melepaskan belenggu pikirannya untuk mencapai kedamaian. Hegemoni yang terjadi pada diri Siddhartha ini bermacam-macam yang akan dirincikan pada pembahasan.
      Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:
1.      Bagaimana hegemoni itu terjadi pada novel “Siddhartha”?
2.      Siapa sajakah tokoh-tokoh yang mengalami hegemoni?
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dapat diketahui makalah ini memiliki tujuan untuk dapat mengetahui adanya hegemoni yang terjadi pada novel “Siddhartha” dan mengetahui secara rinci hegemoni yang terjadi pada tokoh-tokoh yang ada dalam novel “Siddhartha”.

B. Landasan Teori
Teori hegemoni Gramsci adalah salah satu teori politik paling penting abad XX. Teori ini dibangun di atas premis pentingnya ide dan tidak menutupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Hegemoni adalah kekuasaan atau dominasi yang dipegang oleh satu kelompok sosial terhadap kolompok-kelompok sosial lainnya. Hal ini mengacu pada “saling ketergantungan asimetris” dalam hubungan politik, ekonomi, budaya di antara dan dikalangan negara-negara kebangsaan (Straubhaar, 1991 dalam Lull, 1998) atau perbedaan di antara dan dikalangan kelas-kelas sosial dalam satu bangsa. Lebih lanjut,  Hegemoni adalah “dominasi dan subbordinasi pada bidang hubungan yang distrukturkan oleh kekuasaan” (Hall, 1985 dalam Lull,1998). Tetapi hegemoni lebih dari sekedar kekuasaan sosial itu sendiri; hegemoni merupakan suatu metode untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Hegemoni dapat juga berarti situasi dimana suatu ‘blok historis’fraksi kelas berkuasa menjalankan otoritas sosial dan kepemimpinan terhadap kelas-kelas subordinat melalui kombinasi antar kekuasan, dan terlebih lagi dengan konsensus.
Hegemoni menurut Gramsci, dominasi ide kompromis yang tak dipertanyakan lagi yang merepruduksi masyarakat tertentu. Pada masa kapitalisme akhir kehidupan sehari-hari tertuang dengan wacana dan teks yang mengalihkan orang dari keterasingan mereka (dan menganjurkan perlunya kelegaan tertentu, seperti :belajar dan liburan) dan memotret dunia secara rasional dan penuh dengan keniscayaan. Tujuan kritik ideologi pada masa kapitalisme akhir adalah untuk mengungkap dan medemistifikasi, dominasi, dan hegemoni yang ada dipengalaman dan aktivitas-aktivitas kehidupan sehari-hari (Ben, 2002). Dalam analisis Gramsci, ideologi dipahami sebagai ide, makna dan praktek yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Ideologi menyediakan aturan prilaku praktis dan tatanan moral yang sepandan dengan agama secara sekuler dipahami sebagai kesatuan keyakinan antara konsepsi dunia norma tindakan terikat (Gramsci, 1971:349 dalam Berker, 2002: 62).
Teori marxis klasik, tentu saja menekankan posisi ekonomi sebagai penyebab terkuat perbedaan sosial. Perkembangan teknologi dalam babad ke-20 mengkibatkan cara dominasi sosial jauh lebih rumit ketimbang masa sebelumnya. Perbedaan kelas sosial di dunia dewasa ini tidak semata-mata atau secara langsung ditentukan oleh faktor ekonomi, kini pengaruh ideologi pun menentukan dalam pelaksanaan kekuasaan sosial.
Hegemoni pada awalnya dicetuskan oleh Antonio Gramsci, semasa mendekam dipenjara resim fasis. Konsep ini pada dasarnya berusaha untuk menjelaskan mengapa revolusi sosialis tidak terjadi di negara barat yang nota bene demokrasi dan maju padahal disana terjadi tekanan dan eksploitasi akibat kapitalisme. Hegemoni digunakan dengan mengacu pada sebuah kondisi proses di mana kelas dominan tidak hanya mengatur namun juga mengarahkan masyarakat melalui pemaksaan kepemimpinan moral dan intelektual.
Hegemoni terjadi pada suatu masyarakat dimana terdapat suatu tingkat konsensus yang tinggi dengan ukuran stabilitas sosial yang besar dimana kelas bawah dengan aktif mendukung dan menerima nilai-nilai, ide, tujuan dan makna budaya yang mengikat dan menyatukan mereka pada struktur kekuasaan yang ada. Meskipun hegemoni mengimplikasikan tingkat konsensus yang tinggi namun hal itu berarti bahwa masyarakat tidak sedang berada pada situasi tanpa konflik.
Apa yang dilakukan hegemoni adalah membatasi konflik ini tidak lain kecuali memelihara dan mempertahankan hegemoni dan harus terus menerus  dipertahankan dengan memberi konsesi pada kelas atau kelompok subordinannya. Hegemoni “diatur” oleh mereka yang oleh Gramsci sebut sebagai “intelektual organik” mereka. Menurut Gramsci semua orang memiliki kemampuan melakukan suatu intelektual, tetapi hanya orang-orang tertentu saja mempunyai fungsi intelektual organik berfungsi sebagai pengatur kelas dalam maknanya yang paling luas (Storey, 2003:172-175).
Gramsci, memperluas teori materialis Marxis ke bidang ideologi. Gramsci, menekankan peranan “bangunan atas” (super structure) dari masyarakat, lembaga-lembaga yang memproduksi ideologinya, dalam perjuangan atas makna dan kekuasaan (1971; 1973 ;1978 lihat juga Boggs, 1976; Sassoon,1980; dan Simon, 1982 dalam Lull, 1998).
Menurut Gramsci, agar yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksud dengan Gramsci, dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan noral dan intelektual” secara konsensual. Dalam konteks ini, Gramsci, secara berlawanan mendudukkan hegemoni, sebagai satu bentuk supremasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas yang lain, dengan bentuk supremasi lain yang ia namakan “dominasi,” yaitu kekuasaan yang ditopang kekuasaan fisik (1971, dalam Sugiono, 1999 : 31).
Menurut Femina pengertian itu sudah dikenal oleh orang marxis lain sebelum Gramsci. Perbedaan teori Gramsci dngan penggunaan istilah serupa itu sebelumnya adalah, pertama, ia menerpakan konsep itu lebih luas bagi supremasi satu kelompok atau lebih atas yang lainnya dalam setiap hubungan sosial, sedangkan pemakaian istilah itu sebelumnya hanya merujuk pada relasi antar proretariat dan kelompok lainya, yang kedua, Gramsci juga mengkarakterisasikan hegemoni dalam istilah “pengaruh kultural,” tidak hanya “ kepemimpinan politik dalam sebuah sistem aliansi” sebagaiman dipahami generasi marxis terdahulu (Femia, 1983 dalam Sugiono,1999:32).
Penggunaan konsep Hegemoni dari Gramsci bisa dipandang sebagai upaya menjambatani jurang antara substruktur dan superstruktur sebagaimana dipahami marxisme ortodoks dan menganggap keduanya sebagai sebuah ‘kesatuan dialektis oposisi’(Kurtz, 1996 dalam Sugiono, 1999:33).

C.   Pembahasan
Untuk dapat menganalisis novel dengan menggunakan hegemoni maka harus menganalisis aspek-aspek sosial yang ada dalam novel itu sendiri yang berhubungan tentang dominasi kepemimpinan moral berdasar pandangan Gramsci. Hegemoni itu sendiri ia artikan sebagai praktik kepemimpinan budaya yang dilakukan oleh ruling class, yang menjadi isi dari filsafat praxis. Perubahan tidak ditempuh melalui praktik koersif yang menggunakan kekuasaan eksekutif dan legislatif atau intervensi yang dilakukan polisi melainkan menggunakan ideologi. Menurut teori hegemoni Gramsci hegemoni tidak diperlihatkan pada kekerasan melainkan kepada pengarahan terhadap sesuatu atau disebut dengan kepemimpinan intelektual. Pada novel Siddhartha terdapat pengarahan ideology. Dalam analisis Gramsci, ideologi dipahami sebagai ide, makna dan praktek yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Ideologi menyediakan aturan prilaku praktis dan tatanan moral yang sepandan dengan agama secara sekuler dipahami sebagai kesatuan keyakinan antara konsepsi dunia norma tindakan terikat (Gramsci, 1971, hal. 349 dalam Berker, 2000:62).
Hegemoni ini terjadi pada tokoh-tokoh yang terlibat di dalam novel ini. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam novel ini saling terhegemoni satu sama lain. Berikut akan dijabarkan hegemoni yang terjadi pada novel Siddhartha. Pada novel ini mendominasi bukan hanya terjadi akibat kelompok kelas sosial yang memilki kekuasaan namun dominasi juga menyangkut antar individu yang menguasai melaui kepemimpinan intelektual atau kepemimpinan moral. Tokoh-tokoh yang ada di dalam novel ini mengalami hegemoni baik dengan dirinya sendiri maupun dengan tokoh lain. Berikut akan dijabarkan satu persatu hegemoni yang terjadi pada novel Siddhartha.
1.      Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddhartha oleh Dirinya Sendiri
Siddhartha merupakan tokoh utama dalam novel yang berjudul Siddharta. Tokoh Siddhartha ini mengalami hegemoni atas pemikirannya sendiri. Ia tidak pernah merasa puas serta bahagia dengan apa yang didapatkannya. Ia tidak pernah merasakan kedamaian hadir dalam hidupnya meski banyak orang yang merasa damai dengan adanya Siddhartha. Ia merupakan anak seorang brahmin yang mempunyai pikiran yang cerdas serta selalu diunggulkan dalam kaumnya. Ia selalu meraih segala sesuatu yang bagi kebanyakan orang merupakan hal yang susah namun bagi Siddhartha merupakan hal yang mudah karena ia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Banyak para brahmin lain yang iri serta bangga  dengan kecerdasannya. Begitu pula sahabatnya yang bernama Govinda. Ia selalu menjadi panutan sahabatnya. Dimanapun Siddhartha berada disitu Govinda selalu menemaninya. Diusianya yang masih belia ia telah banyak belajar kitab-kitab agamanya dan ia telah menguasai dengan baik kitab yang telah diajarkan kepadanya. Berikut kutipannya
Kegelisahan menghantui Siddhartha. Dia mulai merasakan bahwa cinta ayah dan ibunya, dan bahkan cinta dari temannya Govinda, tidak akan membawanya menuju kebahagiaan abadi, tidak akan membawanya pada kesenangan dan kepuasan, tidak mampu memenuhi keinginannya. Dia merasa bahwa ayahnya terhormat dan guru-guru lainnya, para Brahmin yang bijaksana, telah memberikan ajaran tentang kebijaksanaan yang telah mereka miliki padanya; mereka telah menuangkan segalanya ke dalam bejana penampungannya; dan bejana itu tidak penuh, pikirannya tidak merasakan kepuasan, jiwanya tidak merasakan kedamaian, hatinya tidak merasakan kebahagiaan. (Hesse, 2007:16-17)
Kepuasan dan kedamaian abadi yang ia cari belum pernah ia dapatkan sehingga ia mencari kedamaian dan kepuasan  itu dengan berbagai macam cara. Salah satu cara yaitu dengan mejadi seorang samana. Ia mendapatkan ide menjadi seorang samana karena ia melihat beberapa orang samana yang kurus dan ceking melintas di kotanya. Setelah Siddhartha melihat para samana tersebut ia merasakan atmosfer hangat dan gairah kesunyian dan pengorbanan diri yang meghadang diri mereka. Setelah melihhat kejadian itulah ia merenung di bawah pohon seharian memikirkan langkahnya bagaimana jika ia menjadi seperti para samana. Setelah merenung seharian akhirnya ia mendapatkan keputusan yang kuat untuk menjadi seorang samana. Berikut kutipannya:
Malam hari, setelah jam perenungan, siddharta berkata pada Govinda, “Besok pagi, Sahabatku, Siddhartha kan mendatangi para samana. Dia akan menjadi seorang samana.”(Hesse, 2005:22).
Mendengar kata-kata ini Govinda pucat; dia melihat di wajah temannya sebuah keputusan yang mustahil untuk dibelokkanbagaikan anak panah yang melijit dari busur... (Hesse, 2005:22)
Menjadi seorang samana tidak menjadikan Siddharta puas. Selama beberapa tahun ia telah menguasai ilmu yang telah diajarkn oleh samana yang tertua dan ia berhasil menguasainya dengan baik namun hal itu juga belum menjawab rasa dahaga yang dicari oleh Siddhartha. Sampai suatu ketika desas-desus tentang pembawa ajaran tentang kedamaian dan kebenaran sampai di telinga Siddhartha dan Govinda. Desas-desus itu yang membuat hati Siddhrtha ingin mengetahuinya secara langsung ajaran apakah itu yang telah dibawa seorang yang bernama Gotama yang sangat diagungkan. Dengan adanya desas-desus itu Siddhartha semakin penasaran dan mengambil keputusan untuk keluar dari samana. Berikut kutipannya:
Pada hari yang sama Siddhartha menyampaikan kepada samana tertua tentang keputusannya untuk meninggalkannya. Dia memeberitahukan kepada samana yang lebih tua dengan sopan dan kerendahan hati layaknya seorang murid dan pengikut. Tapi samana menjadi marah karena kedua anak itu meningalkannya; dia meninggikan suaranya dan menggunakan kata-kata kasar (Hesse, 2005:44)
Setelah ia bertemu dengan Gotama namun ia belum juga menemukan kedamaian yang ia cari selama ini. Ia sempat beradu argumen dengan Gotama namun ia tidak mengikuti aturan Gotama namun ia menyadari bahwa memang ia merasakan kebenaran dimatanya yang belum pernah ia temui selama ini. ia kemudian melanjutkan pencariannya menuju ke kota, dimana tempat kesenangan dunia hidup di dalamnya. Diperjalanannya ke kota ia menyeberangi sungai dan bertemu dengan Vasudeva sang juru sampan yang dengan senang hati menyebrangkan seorag yang tidak mempunyai apa-apa untuk mengupainya. Vasudeva hanya meminta sebuah persahabatan yang akan terjalin. Sesampai di kota ia berhenti di taman milik seorang pelacur yang cantik jelita yang bernama Kamala. Dari Kamalalah ia belajar kesenangan duniawi. Siddhartha berguru pada Kamala. Berikut kutipannya:
“Belum pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana keluar dari hutan datang padaku dan ingin menjadi muridku! Belum pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana dengan rambut panjangnya dan menggenakan celana usang compang-camping datang padaku. Banyak pemuda yang datang padaku, dan beberapa di antaranya adalah putra para brahmin, tapi mereka datang menggenakan sepatu bagus, mereka wewanggian di rambutnya dan uang dikantongnya. Begitulah kualitas pemuda, samana, yang datang padaku.”(Hesse, 2005:84).
Di kota Siddharta juga mempelajari ilmu berdagang daro seseorang yang bernama Kamaswarni. Hasil berdagang yang telah ia lakukan menjadikan ia menjadi kaya raya sehingga dapat merasakan segala kenyamanan dalam kehidupan. Ia mulai gemar berjudi dan minum-minuman keras serta selalu memainkan cinta bersama Kamala. Semua yang telah ia lakukan belum juga membuat ia merasa puas dan ia belum menemukan kedamaiaan yang ia cari selama ini dalam hidupnya. Siddhartha pun merasakan samsara yang teramat dalam dikehidupan yang serba mewahnya sehingga setelah ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang serba mewah itu.
Jalan terakhir yang ia tempuh untuk memuaskan rasa yang selama ini belum juga ia temukan adalah menjadi juru sampan. Ia berguru kepada Vasudeva yang mengajarinya sebuah ilmu baru yakni mendengarkan kehidupan yang ada di sungai. Dari sungailah Siddhartha menemukan sebuah kebijaksanaan yang tak bisa ia katakan. Ia menjadi seseorang yang bijaksana dan wajahnya penuh dengan sinar kebijaksanaan. Ketika teman lamanya bertemu ia kembali, temannya tidak mengenalinya karena perubahan dari wajah Siddhartha. Temannya yang bernama Govinda menanyakan apakah ia memiliki ajaran baru, gagasan khusus, atau pemahaman yang menjadikan ia seperti yang Govinda lihat saat ini. ia hanya mengatakan bahwa menemukan sebuah gagasan yaitu kebijaksanaan tidak dapat dikatakan seperti halnya pengetahuan. Berikut kutipannya:
Siddhatha berkata, “Aku memang memilki gagasan-gagasan, ya, dan juga pemahaman, dari semuanya, satu satu saat aku merasa kebijaksanaan dari diriku dalam satu jamatau selama sehari, sama seperti seseorangyang kadang kala merasakan kehidupan di dalam hatinya. Ada banyak gagasan, tapi akan sulit bagiku untuk menunjukkan padamu. Lihat, Govinda, ini salah satu gagasan yang kutemukan: Kebijaksanaan tidak dapat diungkapkan kebijaksanaan, saat seseorang bijak mencoba menggungkapkannya, selalu terdengar bagaikan kebodohan.”(Hesse, 2005:206-207)  
Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas maka dapat diketahui bagaimana hegemoni yang terjadi pada Siddhartah oleh pemikirannya sendiri. Ia mencoba berbagai macam cara untuk dapat membebaskan rasa kedamaian yang abadi yang terus ia cari di sepanjang perjalanan hidupnya. Dengan berbagai cara yang ia coba dan jalani itulah yang membuat ia menemukan sebuah kebijaksanaan yang tak dapat diunggkapkan layaknya sepuah pengetahuan. Hal itulah yang membuat Siddharta menemukana kedamaian yang selama ini ia cari.
2.      Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddhartha oleh Tokoh Kamala
Hegemoni yang terjadi pada toko Siddhartah yang dilakukan oleh Kamala merupakan Hegemoni yang berbentuk pengarahan pemikiran. Hal itu disebabkan Kamala yang mengarahkan Siddhartha menjadi seseorang yang kaya raya agar dapat belajar padanya seni bercinta. Berikut kutipannya:
... Belum pernah terjadi padaku sebelumnya ada seorang samana dengan rambut panjangnya dan menggenakan celana usang compang-camping datang padaku. Banyak pemuda yang datang padaku, dan beberapa di antaranya adalah putra para brahmin, tapi mereka datang menggenakan sepatu bagus, mereka wewanggian di rambutnya dan uang dikantongnya. Begitulah kualitas pemuda, samana, yang datang padaku.”(Hesse, 2005:84).
Sambil tertawa Kamala mengtakan, “belum, Teman terhorma, dia masih belum cukup baik. Dia harus menggenakan pakaina, pakaian yang indah, alas kaki yang bagus, uang melimpah di kantongnya—dan hadiah untuk Kamala. Apakah Anda mengerti samana dari hutan? Apakah Anda memahaminya?”(Hesse, 2005:85).
Kamala lah yang juga telah mengarahkan Siddhartha untuk belajar berdagang dengan seseorang yang bernama Kamaswarni agar ia bisa memenuhi syarat yang telah diajukannya jika ia ingin belajar seni bercinta darinya. Berikut kutipannya:
“Segalanyaberjalan baik,ujar Kamala padanya. “Kamu sudah ditunggu di rumah kamaswarni. Dia merupakan pedagang terkaya di kota ini. jika ia menyukaimu, dia akan memperkerjakanmu. Pintar-pintarlah, Samana berkulit coklat. Aku telah meminta orang lain untuk menceritakan  padanya tentang dirimu. Tunjukkan padanya kelebihanmu—dia sangat berkuasa. Tapi jangan menjadi terlalu rendah hati. Aku tidak ingin kmu menjadi pelayannya. Kamu harus sejajar dengannya, jika tidak aku tidak akan menyukaimu. Kamaswarni mulai tua dan cukup puas dengan dirinya. Jika ia menyukaimu, dia akan memmpercayakan bisnisnya padamu.”(Hesse, 2005:93)
            Berdasarkan kutipan di atas maka dapat diketahui adanya pengarahan pemikiran yang dilakukan Kamala pada Siddhartha agar menjadi seseorang yang kaya raya yang dapat memberikan keinginan Kamala jika ia ingin menjadi muridnya dalam seni bercintanya.
3.      Hegemoni yang Terjadi pada Tokoh Siddharta oleh Anaknya
Hegemoni yang terjadi pada tokoh Sidhartha merupakan hegemoni yang berbentuk penindasan. Hal itu dikarenakan sikap angkuh sang anak kepada Siddhartha. Sikap baik yang diberikan oleh Siddhartha semakin membuat ia sengsara karena ia tidak dapat menerima kehidupan yang miskin tidak seperti ketika ia bersma ibunya yang hidup serba kecukupan. Padahal ia berusah memberikan makanan terbaik yang dapat ia usahakan untuk diberikan kepada anaknya. Ia juga berusaha melakukan semua pekerjaan anaknya namun hal itu tak membuat si anak luluh terhadapnya. Berikut kutipannya:
Siddhartha berlaku lembut padanya dan membiarkan menempuh caranya sendiri... Siddhartha sadar kalaukesedihan kesedihan hati dari anak manja tidak mungkin begitu saja menerima keanehan dan kemiskinan dengan gembira. Dia tidak memaksanya. Dia melakukan sebagian besar pekerjaannya untuk anak itu, selalu berusaha mencari potongan makanan terbaik untuknya. Dia berharap lambat laun akan memenangkan hatinya melalui kebaikan dan kesabaran (Hesse, 2005:173).
Anak Siddhartha bukan luluh dengan sikap yang telah Siddhartha berikan kepadanya malah semakin muak dengan semua kebaikan yang telah diberikan Siddhrtha padanya. Ia bosan dikurung di dalam pondok Vasudeva yang buruk. Sampai suatu ketika ia tidak tahan akhirnya percekcokan terjadi antara Siddhartha dan anaknya. Pagi harinya ia pun melarikan diri untuk meningggalkan ayahnya. Ia pun membawa koin tembaga milik vasudeva. Ia melarikan diri dengan menggunakan rakit serta menghancurkan semua dayung milik vasudeva agar sang ayah tidak dapat menyusulnya. Setelah ia mengetahui bahwa anaknya telah meninggalkannya ia bergegas membuat rakit agar dapat munyusul anaknya yang telah kabur. Hal itu dilakukan karena rasa sayangnya terhadap anaknya hingga ia rela melakukan apa saja untuk dapat dekat dengan anaknya. Ia mengkhawatirkan anaknya tidak bisa keluar dari hutan sendirian. Pengejaran Siddhartha pun sia-sia sampai di tengah kota ia tidak dapat menemukan anaknya. Ia termenung di kota sebelum ia memutuskan untuk kembali ke pondok Vasudeva dengan membawa kenyataan bahwa anaknya tidak ingin bersamanya kembali sehingga anaknya memutuskan untuk meninggalkan Siddhatrha yang sangat menyayanginya.
            Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa anaknya telah menghegemoni perasaan Siddhartha. Siddhatrha yang sangat mencintai anaknya tetapi tidak mendapatkan balasan apaun dari anaknya. Ia mendapatkan kesedihan yang teramat dalam akibat ulah anknya yang telah meninggalkannya.

D.   Simpulan
Novel merupakan karya sastra yang di dalamnya memuat aspek-aspek sosial. Aspek-aspek sosial ini lah yang  digali untuk dapat menerapkan teori hegemoni. Aspek-aspek sosial ini dijadikan pijakan dalam membedah novel Siddhartha karena pada makalah ini mengaji novel dengan menggunakan kajian sosiologi sastra. Teori Hegemoni itu sendiri berarti dominasi kepemimpinan moral berdasar pandangan Gramsci.
Terlihat jelas dalam novel ini, di dalamnya telah mengungkap teori Gramsci itu sendiri dikaji dari aspek sosialnya bahwa kepemimpinan moral atau pengarahan pemikiran terjadi kepada beberapa tokoh tynag terlibat di dalamnya. Hegemoni yang ada pada novel ini sebenarnya bukan hanya terdapat tiga bahasan seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan namun pada makalah ini difokuskan kearah hegemoni yang tampak dominan yang terjadi antar tokoh yang terlibat di dalamnya.
            Hegemoni itu yang pertama terjadi pada tokoh Siddhartha oleh pemikirannya sendiri yang ingin menemukan sebuah kedamaian abadi hingga ia menempuh dengan berbagai macam cara. Hegemoni kedua terjadi pada tokoh Siddhartha oleh Kamala. Hegemoni itu berupa pengarahan pemikiran yaitu mengarahkan pemikiran Siddhartha untuk menjadi seorang yang kaya raya agar dapat menjadi muridnya untuk belajar seni bercinta. Untuk menjadi murid Kamala Siddhartha harus dapat memenuhi keinginan Kamala, yaitu memilki banyak uang sehingga dapat memberikan hadiah pada Kamala. Hegemoni yang terakhir yaitu hegemoni pada tokoh Siddhartha oleh anaknya sendiri. Hegemoni itu berupa penindasan perasaan yaitu dengan mengacuhkan semua perbuatan baik Siddhartha terhadapanya. Ia tidak menerima Siddhartha sebagai ayahnya karena keadaan Siddhartha yang miskin dan serba kekurangan.
            Dari aspek-aspek sosial yang ada pada cerpen dapat kita temukan bahwa aspek-aspek sosial  yang ada tersebut terdapat hegemoni yang dilakukan oleh seorang tokoh yang meghegemoni tokoh lain yang ada di dalamnya. Hegemoni itu berupa pengarahan pemikiran serta terdapat pula hegeoni yang berupa penindasan. Penindasan yang ada bukan berupa penindasan fisik melainkan penindasan pemikiran.

Daftar Pustaka
Agger, Ben. 2003. Teori Sosial Kritis Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Barker, Cheris. 2004. Cultural Studies Praktek dan Teori. Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Hesse, Hermann. 2005. Siddhatrha. Yogyakarta : JEJAK.
Kutha Ratna, Nyoman. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakrata : Pustaka Pelajar.
Lull, James. 1998. Media Komunikasi Kebudayaan Suatu Pendekatan Global. Pengantar: Parakitri T. Simbolon. Jakarta :Yayasan Obor Indonesia.
Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop Memetakan Lanskap Konseptual Cultutal Studies. Yogyakarta : CV. Qalam.
Sugiono, Muhadi. 1999. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.